islami.co.id – Semangat perjuangan generasi muda Indonesia yang memuncak pada lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 tidak dapat dilepaskan dari peran tokoh-tokoh pergerakan Islam. Salah satu yang memiliki kontribusi besar adalah KH Ibrahim (1874–1932). Hal ini sebagaimana dipaparkan oleh Drs. Muslim Sutanggar dalam artikelnya berjudul “Salah Satu Sisi yang Mendorong Lahirnya Sumpah Pemuda” yang dimuat dalam Suara Muhammadiyah No. 20 Tahun 75/1990 halaman 15–16.
Sebagai Ketua Hoof Bestuur (HB) Muhammadiyah periode 1923–1931, KH Ibrahim menyusun program perjuangan yang secara aktif menggerakkan semangat juang di kalangan pemuda dan perempuan. Ia bersama para pimpinan Muhammadiyah lainnya menargetkan pembinaan generasi muda melalui organisasi seperti Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah. Langkah strategis ini menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya kesadaran persatuan dan kesatuan bangsa di berbagai lapisan masyarakat—sebuah kondisi yang kemudian mematangkan situasi menuju ikrar monumental Sumpah Pemuda.
Fokus utama pembinaan pemuda oleh KH Ibrahim diwujudkan melalui gerakan kepanduan Hizbul Wathan (HW). Beliau menitikberatkan perhatiannya pada pembinaan kaum perempuan melalui Aisyiyah serta penguatan pergerakan angkatan muda. Di bawah kepemimpinannya, HW berkembang pesat di berbagai daerah. KH Ibrahim bahkan turun langsung membina anggota Pandu HW, seperti mengumpulkan mereka di halaman rumahnya, memberi wejangan tentang arah perjuangan bangsa, serta mendampingi mereka dalam latihan fisik dan mental.
Baca juga, Kisah Langka Buya A.R. Sutan Mansur: Kitab, Obeng, dan Kedalaman Tauhid yang Menggetarkan
Pembinaan yang menyeluruh ini kelak melahirkan kader-kader bangsa yang berpengaruh. Salah satunya adalah Panglima Besar Soedirman, yang kemudian diberi gelar “Bapak Pandu HW” oleh Muhammadiyah karena kuatnya jejak pembinaan yang ia dapatkan dari gerakan tersebut.
Dalam rangka menciptakan kondisi matang bagi lahirnya Sumpah Pemuda, KH Ibrahim merancang tiga program ideologis yang menjadi bekal penting pergerakan nasional. Program tersebut meliputi:
- Menanamkan rasa cinta tanah air, agar pemuda memahami pentingnya memperjuangkan dan mempertahankan milik bangsa sendiri.
- Mewajibkan penggunaan Bahasa Indonesia (saat itu Bahasa Melayu) dalam dakwah dan pengajian, sebagai bentuk perlawanan halus terhadap politik kolonial yang memaksakan Bahasa Belanda.
- Menumbuhkan semangat kesatuan dan persatuan, guna memperkuat identitas kebangsaan di tengah masyarakat.
Ketiga program yang dijalankan secara masif dan terstruktur oleh KH Ibrahim bersama Pimpinan Muhammadiyah pada periode 1923–1931 terbukti efektif. Semangat cinta tanah air, kecintaan terhadap bahasa persatuan, serta tumbuhnya kesadaran kebangsaan memberi dorongan signifikan bagi para pemuda hingga akhirnya mampu menyatakan tiga ikrar bersejarah dalam Sumpah Pemuda 1928.
Melihat fakta tersebut, layak kiranya jika KH Ibrahim disebut sebagai salah satu tokoh penting yang mempersiapkan landasan mental dan ideologis bagi terwujudnya Sumpah Pemuda. Semoga Allah melimpahkan rahmat yang luas kepada beliau.










