islami.co.id – Bulan Zulhijah termasuk salah satu bulan paling mulia dalam Islam. Pada bulan inilah umat Islam melaksanakan ibadah haji, kurban, dan berbagai amalan saleh yang sangat dianjurkan. Salah satu ibadah yang sering dibahas menjelang Iduladha ialah puasa awal Zulhijah. Namun, tidak sedikit masyarakat yang masih bingung tentang perbedaan puasa 10 hari Zulhijah dengan puasa pada 9 Zulhijah atau puasa Arafah.
Sebagian orang menganggap keduanya sama, padahal secara fikih terdapat perbedaan dari sisi waktu, hukum, hingga keutamaannya. Karena itu, penting untuk memahami penjelasan para ulama agar ibadah yang dilakukan menjadi lebih tepat dan sesuai tuntunan syariat.
Dalam kalender hijriah, 10 Zulhijah merupakan hari Iduladha. Pada hari itu justru diharamkan berpuasa. Maka, istilah “puasa 10 hari Zulhijah” sebenarnya merujuk pada puasa di sembilan hari pertama bulan Zulhijah, khususnya sejak tanggal 1 sampai 9 Zulhijah.
Rasulullah saw. sangat menganjurkan umatnya memperbanyak amal saleh pada hari-hari tersebut. Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari disebutkan:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ
Artinya: “Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini.” (HR. al-Bukhari).
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud “sepuluh hari” ialah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Amal saleh dalam hadis tersebut mencakup salat, sedekah, zikir, membaca Al-Qur’an, hingga puasa sunah.
Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menjelaskan bahwa puasa pada sembilan hari awal Zulhijah hukumnya sunah dan sangat dianjurkan. Bahkan, para ulama mazhab Syafi’i memasukkannya sebagai puasa sunah yang memiliki keutamaan besar.
Hadis lain yang sering dijadikan dasar ialah riwayat dari Hafshah ra.:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ
Artinya: “Rasulullah saw. biasa berpuasa pada sembilan hari Zulhijah.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Baca juga, Esai dan Opini Tugas Kuliah Bisa Tembus Media Nasional, Begini Caranya!
Hadis ini menunjukkan anjuran umum untuk berpuasa sejak tanggal 1 sampai 9 Zulhijah. Akan tetapi, puasa yang paling utama di antara hari-hari tersebut ialah puasa tanggal 9 Zulhijah atau yang dikenal sebagai puasa Arafah.
Puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Zulhijah, tepat ketika jamaah haji sedang melakukan wukuf di Padang Arafah. Puasa ini memiliki keutamaan yang sangat besar bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.
Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah saw. bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
Artinya: “Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa puasa Arafah mempunyai keutamaan khusus yang tidak dimiliki puasa sunah lain pada awal Zulhijah. Karena itu, para ulama membedakan antara puasa sembilan hari Zulhijah secara umum dan puasa Arafah secara khusus.
Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa amal ibadah pada awal Zulhijah memiliki kedudukan agung karena berkumpulnya ibadah pokok dalam satu waktu, seperti salat, puasa, sedekah, dan haji. Hal ini tidak ditemukan pada bulan-bulan lain.
Adapun perbedaan utama antara puasa awal Zulhijah dan puasa Arafah dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, dari sisi waktu pelaksanaan. Puasa awal Zulhijah mencakup tanggal 1 sampai 8 Zulhijah, sedangkan puasa Arafah dilakukan khusus pada tanggal 9 Zulhijah.
Kedua, dari sisi keutamaan. Puasa awal Zulhijah bernilai sunah dan termasuk amal saleh yang dicintai Allah. Sementara itu, puasa Arafah memiliki keutamaan tambahan berupa penghapusan dosa dua tahun.
Ketiga, dari sisi pelakunya. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa puasa Arafah sangat dianjurkan bagi orang yang tidak berhaji. Adapun jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah justru disunahkan tidak berpuasa agar memiliki kekuatan fisik dalam menjalankan rangkaian ibadah haji.
Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. tidak berpuasa saat wukuf di Arafah ketika melaksanakan haji wada’. Pendapat ini kemudian diikuti mayoritas ulama dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Sementara itu, Syekh Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh al-Shiyam menjelaskan bahwa puasa Arafah merupakan momentum spiritual besar bagi umat Islam di seluruh dunia untuk menumbuhkan ketakwaan, memperbanyak doa, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa puasa 10 hari Zulhijah bukan berarti berpuasa hingga tanggal 10 Zulhijah, sebab pada hari Iduladha diharamkan berpuasa. Istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai anjuran memperbanyak ibadah pada sepuluh hari pertama Zulhijah dengan puasa dilakukan pada sembilan hari awalnya.
Sedangkan puasa 9 Zulhijah atau puasa Arafah merupakan puasa sunah khusus yang memiliki keutamaan luar biasa. Karena itu, umat Islam sebaiknya tidak melewatkan kesempatan berharga tersebut, terlebih karena pahala dan ampunan yang dijanjikan Allah sangat besar.










