Oleh : Muhammad Rizal S.E. (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Internasional Darullghah Waddaβwah Jawa Timur, Santri di Ponpes Dalwa, dan Ustaz di Ponpes Annihaya Karawang
islami.co.idΒ βΒ Menjaga tidak selalu berarti melawan. Bertahan juga tidak selalu harus diam. Begitu pula diam tidak selalu bermakna kekalahan, sebagaimana koar-koar tidak selalu menyuarakan kebenaran.
Tidak dapat dimungkiri bahwa kita hidup di akhir zaman, masa ketika berbagai bentuk fitnah bermunculan. Fitnah-fitnah tersebut melemahkan umat Islam, membuat banyak orang sibuk dengan urusannya sendiri, dan mengurangi kepedulian terhadap kondisi saudara seiman.
Pernahkah kita bertanya mengapa umat Islam tampak tidak berdaya, padahal jumlahnya sangat besar? Apa yang menyebabkan kelemahan itu? Salah satu jawabannya adalah karena umat Islam sedang tertimpa penyakit yang disebut fitnah akhir zaman.
Menurut Al-Habib Abu Bakar Al-Adni Al-Masyhur dalam kitab Fiqh at-Tahawwulat, fitnah akhir zaman adalah segala bentuk perubahan zaman yang merusak, mengaburkan, dan membalikkan nilai-nilai kebenaran syariat Islam. Dengan kata lain, segala sesuatu yang mengubah, menyamarkan, atau membalikkan nilai-nilai kebenaran Islam termasuk dalam kategori fitnah akhir zaman.
Banyak fenomena yang terjadi pada masa kini, baik disadari maupun tidak, justru merusak nilai-nilai syariat sehingga Islam tampak buruk di mata sebagian orang. Misalnya, tidak sedikit pelaku tindak kejahatan yang mengenakan simbol-simbol keislaman saat menjadi tahanan, padahal sebelumnya enggan memakainya. Fenomena seperti ini sering kali menimbulkan citra negatif terhadap Islam.
Contoh lainnya dapat ditemukan di media sosial. Banyak anak muda membuat konten demi mengejar viralitas dan algoritma. Namun, sebagian dari mereka tidak memperhatikan batasan syariat dalam berpakaian dan berperilaku. Tidak sedikit yang mengenakan hijab tetapi tetap mempertontonkan aurat lainnya. Tanpa disadari, tindakan tersebut dapat merusak citra syariat Islam. Bahkan, yang lebih memprihatinkan, sebagian masyarakat menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa dan lumrah. Wal βiyadzu billah.
Ada sebuah kaidah fikih yang penting untuk direnungkan, yaitu:
“Ar-ridha bil ma’shiyah ma’shiyatun.”
Rela terhadap kemaksiatan juga merupakan kemaksiatan. Kaidah yang disebutkan dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya Imam Al-Qurthubi ini mengajarkan bahwa ketika seseorang mendukung atau merestui kemaksiatan, ia turut mengambil bagian dalam dosa tersebut.
Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Dawud nomor 4345:
“Jika suatu kemaksiatan dilakukan di muka bumi, lalu seseorang melihatnya dan membencinya β atau mengingkarinya β maka ia seperti orang yang tidak melihatnya. Sebaliknya, siapa yang tidak melihatnya tetapi ridha terhadapnya, maka ia seperti orang yang hadir dan ikut terlibat di dalamnya.”
Karena itu, ketika seseorang dengan sengaja menyebarkan atau mendukung konten yang bermuatan kemaksiatan, ia berpotensi ikut menanggung dampak dosanya. Sebuah tindakan yang tampak sederhana, tetapi memiliki konsekuensi yang sangat besar.
Lima Bentuk Fitnah Akhir Zaman
Al-Habib Abu Bakar Al-Adni Al-Masyhur menjelaskan bahwa setidaknya terdapat lima bentuk fitnah akhir zaman.
1. Fitnah Duhaima’ (Fitnah Pemikiran Global)
Fitnah ini masuk ke dalam rumah-rumah kaum muslimin melalui modernisasi, teknologi, komunikasi, dan globalisasi. Dampaknya adalah munculnya kebingungan dalam membedakan antara yang hak dan yang batil.
Kebenaran dan kebatilan menjadi samar karena banyaknya narasi yang dikemas sedemikian rupa sehingga kebohongan tampak seperti kebenaran. Salah satu contohnya adalah maraknya penyebaran berita hoaks yang sering beredar di berbagai platform media.
2. Fitnah Al-Harj (Pertikaian dan Pembunuhan)
Fitnah ini berupa konflik internal yang terjadi di tengah umat Islam, termasuk peperangan dan pertikaian antarsesama muslim.
Baca juga, Esai dan Opini Tugas Kuliah Bisa Tembus Media Nasional, Begini Caranya!
Dampaknya adalah hilangnya penghargaan terhadap nyawa manusia. Rasulullah SAW bahkan menggambarkan kondisi ini sebagai masa ketika seseorang membunuh tanpa mengetahui alasan yang jelas, dan orang yang terbunuh pun tidak mengetahui sebab dirinya dibunuh.
3. Fitnah Syubhat dan Syahwat
Fitnah syubhat muncul melalui berbagai ideologi, pemikiran, dan aliran yang menyimpang dari Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi dibungkus dengan slogan agama atau kemanusiaan sehingga tampak meyakinkan.
Salah satu cirinya adalah adanya ancaman atau tekanan kepada para pengikutnya apabila keluar dari kelompok tersebut, bahkan sering dicap sesat atau murtad.
Sementara itu, fitnah syahwat adalah kecenderungan hati yang berlebihan kepada dunia dan kemaksiatan. Bentuknya dapat berupa normalisasi perzinaan, konsumsi minuman keras secara terbuka, serta berbagai perilaku yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai agama. Wal βiyadzu billah.
4. Fitnah Tokoh Agama yang Menyesatkan
Fitnah ini ditandai dengan munculnya tokoh agama yang memutarbalikkan fatwa demi kepentingan duniawi, politik, atau kepentingan pribadi.
Dalam kondisi seperti ini, yang haram dapat dianggap halal, dan yang halal dapat dianggap haram. Fenomena tersebut menjadi salah satu ujian besar bagi umat Islam dalam menjaga akidah dan pemahamannya terhadap agama.
5. Nawaqid dan Naqaid (Peruntuhan Nilai-Nilai Agama)
Fitnah ini terjadi melalui pengikisan nilai-nilai syariat secara perlahan dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi.
Akibatnya, sebagian kaum muslimin semakin larut dalam tren dan budaya yang menjauhkan mereka dari identitas keislaman. Sedikit demi sedikit, identitas sebagai muslim dan muslimah mulai ditinggalkan demi mengikuti gaya hidup yang dianggap lebih modern.
Tiga Langkah Menjaga Iman di Tengah Fitnah
Lalu, apa yang dapat dilakukan agar tetap bertahan di tengah derasnya fitnah akhir zaman?
Al-Habib Abu Bakar Al-Adni Al-Masyhur menjelaskan tiga langkah penting berikut.
1. At-Talaqqi
At-Talaqqi adalah menuntut ilmu kepada guru, ustaz, atau kiai yang saleh, alim, dan memiliki sanad keilmuan yang bersambung kepada Rasulullah SAW.
Dengan belajar kepada ahlinya, seseorang akan lebih terlindungi dari pemahaman yang menyimpang dan tidak mudah terpengaruh oleh kelompok-kelompok yang menyesatkan.
2. At-Taraqqi
At-Taraqqi berarti meningkatkan kualitas spiritual dan ibadah batiniah. Caranya dengan memperbanyak zikir, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Kekuatan spiritual menjadi benteng penting dalam menghadapi berbagai ujian dan godaan zaman.
3. Menjaga Diri dari Lingkungan Fitnah
Langkah berikutnya adalah menjaga diri semaksimal mungkin dari berbagai bentuk kemaksiatan, menjauhi lingkaran konflik yang tidak bermanfaat, serta tidak ikut menyebarkan fitnah.
Pada era digital saat ini, media sosial sering menjadi sarana penyebaran fitnah. Karena itu, ketika menemukan konten yang bermuatan fitnah, langkah terbaik adalah menghentikan penyebarannya dengan tidak ikut memperluas jangkauannya.
Tidak perlu merepost konten tersebut meskipun dengan alasan memperingatkan orang lain. Tidak perlu pula ikut memperdebatkan atau meramaikannya di kolom komentar. Semakin banyak interaksi yang diberikan, semakin besar pula peluang konten tersebut tersebar luas.
Syekh Samih Al-Kuhaili menjelaskan bahwa fitnah yang tersebar akan mereda ketika masyarakat tidak lagi memberikan perhatian yang berlebihan terhadapnya.
Pada akhirnya, menjaga iman di era fitnah bukan hanya soal melawan keburukan, tetapi juga tentang kemampuan mengendalikan diri, memilih sikap yang tepat, dan tetap berpegang teguh pada ilmu serta tuntunan agama. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, keteguhan iman menjadi benteng paling berharga bagi setiap muslim. Wallahu a’lam.










