islami.co.id, Kendal – Kegiatan Upgrading Dewan Sugli Daerah (DSD) Kwarda Hizbul Wathan Kendal pada Sabtu (15/11) berlangsung hangat dan penuh diskusi. Forum ini menghadirkan dua narasumber yang membahas arah kebijakan hingga penguatan manajemen internal. Para peserta menyebut agenda ini sebagai langkah penting untuk meningkatkan kapasitas kader yang kelak menjadi penerus Kwartir dan Persyarikatan.
Dalam sesi pertama, Wakil Ketua Kwarda HW Kendal, Nur Khodiq, memaparkan gambaran umum tentang kebijakan Hizbul Wathan Kendal untuk periode 2023–2028. Ia menekankan pentingnya arah organisasi yang selaras dengan kebutuhan pembinaan. “Kita perlu memastikan setiap keputusan mampu mendorong kemajuan. Kebijakan harus relevan dengan kondisi lapangan,” ujarnya di hadapan peserta. Ia juga menyampaikan bahwa DSD memiliki posisi strategis karena berhubungan langsung dengan proses kaderisasi.
Khodiq menyebut penyusunan arah kebijakan tidak boleh sekadar formalitas. Ia menuturkan bahwa gerakan kepanduan perlu mengutamakan keteladanan serta konsistensi dalam program kerja. Menurutnya, keberlanjutan pembinaan akan tercapai jika DSD mampu menjalankan fungsi koordinasi secara terstruktur. Para peserta mencatat beberapa poin yang ia sampaikan sebagai bahan perencanaan kegiatan.
Baca juga, Islam dan Budaya Keagamaan: Studi Tradisi Masyarakat Jawa
Setelah pemaparan tersebut, forum berlanjut dengan sesi kedua yang diisi oleh Wakil Ketua Kwartir Wilayah HW Jawa Tengah, Muhammad Taufiq Ulinuha. Mantan Ketua DSW HW Jawa Tengah itu membawakan materi mengenai Manajemen Dewan Sugli serta praktik terbaik dalam pengelolaan Dewan Sugli dan Dewan Kerabat. Materi tersebut mendapat perhatian besar karena menyentuh aspek implementatif yang sering menjadi tantangan di daerah.

Dalam penyampaiannya, Ulinuha menegaskan perlunya penguatan tata kelola. “Dewan Sugli harus menjadi ruang pembelajaran. Pengurus perlu memahami alur kerja agar pelayanan pembinaan berjalan lancar,” kata Ulinuha. Ia menambahkan, praktik terbaik yang ia uraikan merupakan hasil pengalaman pendampingan di berbagai daerah. Para peserta menilai paparan tersebut memberikan gambaran teknis yang mudah diterapkan.
Ulinuha juga memaparkan beberapa contoh kasus yang kerap muncul di lapangan. Ia menjelaskan bahwa Dewan Sugli memerlukan pola komunikasi yang jelas agar tidak terjadi tumpang tindih tugas. Ia menuturkan bahwa koordinasi internal menjadi kunci keberhasilan. Dalam forum itu, ia mengajak peserta meninjau ulang pola kerja masing-masing dan berani membuat pembaruan. Para anggota DSD terlihat antusias memberikan respons serta menceritakan pengalaman mereka.
Pada bagian lain materinya, Ulinuha menyoroti pentingnya dokumentasi, evaluasi, dan konsistensi pelaksanaan program. Ia menyampaikan bahwa Dewan Kerabat dan Dewan Sugli sebaiknya menyusun catatan kerja secara rapi agar mudah melakukan penilaian. Menurutnya, organisasi akan berkembang jika setiap pengurus memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri.
Diskusi yang berlangsung cukup interaktif membuat suasana pelatihan terasa hidup. Peserta menunjukkan minat tinggi ketika Ulinuha menjelaskan teknik manajerial yang dapat dipakai dalam kegiatan harian. Ia menegaskan bahwa upgrading seperti ini berfungsi memperbarui cara pandang pengurus dalam mengelola organisasi.










