Home / Tokoh / Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Ungkap Strategi Keberhasilan Gerakan Besar Melintasi Zaman

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Ungkap Strategi Keberhasilan Gerakan Besar Melintasi Zaman

Haedar Nashir

islami.co.id, Bandung  Pidato iftitah pada Konsolidasi Nasional Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2025 di Universitas Muhammadiyah Bandung, Senin (17/11), menjadi panggung bagi Haedar Nashir untuk menyampaikan pesan yang tajam sekaligus reflektif. Ia menegaskan bahwa keberhasilan gerakan besar seperti Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidak hanya bertumpu pada kerja keras, tetapi ditopang oleh kesabaran, ketepatan membaca zaman, serta kemampuan memilah mana yang substantif dan mana yang sekadar tampilan luar.

Dalam penyampaian itu, Haedar mengingatkan bahwa banyak orang terbawa arus “keberhasilan maya”. Ia menyebut fenomena apresiasi instan di media sosial, seperti berbagai pujian dan respons cepat, dapat menipu pelakunya. “Kesuksesan itu resultan dari kesungguhan dan kesabaran. Banyak yang berhasil karena sungguh-sungguh, tapi gagal mempertahankan karena kurang sabar,” ujarnya.

Haedar menambahkan sebuah pepatah yang akrab di telinga masyarakat: semakin tinggi pohon, semakin kencang angin. Menurutnya, semakin besar Muhammadiyah, semakin besar pula riak tantangan yang harus ditemui di berbagai lini, termasuk tantangan intelektual, sosial, dan digital.

Dalam bagian pidatonya yang lain, Haedar menyoroti perubahan besar yang lahir dari revolusi teknologi informasi. Ia menilai dunia digital yang berkembang cepat membuat sebagian orang cenderung hanya belajar di permukaan dan terlalu bergantung pada kecerdasan buatan. Ia mengutip berbagai riset tentang teknologi, mulai dari upaya memperpanjang usia manusia hingga ratusan tahun, sampai gagasan Yuval Noah Harari tentang bagaimana persoalan hidup dan mati kini dipandang sebagai masalah teknis.

Menurut Haedar, tantangan terbesar bukan semata kecanggihan AI, melainkan risiko lunturnya kepercayaan manusia terhadap akalnya sendiri. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terperangkap menjadi “manusia satu dimensi” yang melihat segala sesuatu secara instingtif dan instrumental. Karena itu, ia menekankan bahwa agama, nilai-nilai luhur, dan orientasi kemanusiaan perlu terus hadir di tengah derasnya inovasi digital.

Baca juga, Soeharto: Kader Muhammadiyah atau NU?

Media sosial turut menjadi perhatian. Haedar menyampaikan bahwa ruang digital kerap mengaburkan batas antara realitas nyata dan maya. Ia mengingatkan warga Muhammadiyah untuk tidak larut dalam hal-hal ornamental yang tampak mengesankan di luar, tetapi tidak menyisakan bekas nyata dalam kerja dakwah dan sosial. Ia menyinggung rendahnya tingkat kesopanan digital masyarakat Indonesia dan mengajak warga persyarikatan memperkuat etika publik melalui dakwah yang berkarakter akhlak al-karimah, sebagaimana nilai-nilai dalam Surah Al-Hujurat.

Isu ideologi juga tak luput dari sorotannya. Haedar menggambarkan bagaimana berbagai paham seperti sosialisme, marxisme, liberalisme, serta ragam ideologi keagamaan masih terus hidup dan memengaruhi masyarakat. Ia menilai fenomena itu turut memberi dinamika tersendiri bagi organisasi.

Terkait situasi kebangsaan, Haedar meminta pimpinan Muhammadiyah untuk cermat ketika menyampaikan pernyataan publik. Ia mengingatkan bahwa isu nasional umumnya memiliki banyak lapisan dan tidak bisa disimpulkan secara tergesa-gesa. “Realitas kebangsaan itu tidak sederhana. Kita membawa organisasi besar, jadi harus penuh pertanggungjawaban,” katanya.

Dalam bagian lain, Haedar menyoroti persaingan antar-lembaga pendidikan, kesehatan, dan sosial di berbagai wilayah. Ia meminta Muhammadiyah memahami kebutuhan lokal sebelum membuka amal usaha baru. Ia mencontohkan daerah seperti Papua Pegunungan yang masih minim layanan sehingga membutuhkan strategi yang tepat.

Haedar juga menyinggung minimnya pengalaman nasional dalam mengembangkan koperasi. Namun ia memandang justru di titik itulah terdapat peluang bagi Muhammadiyah untuk merintis koperasi yang kuat dan sejalan dengan kebijakan pemerintah. UMKM, katanya, perlu terus didorong sebagai pilar ekonomi warga persyarikatan.

Pada akhir pidato, ia menekankan pentingnya revitalisasi gerakan sebagaimana amanat Muktamar Makassar. Ia menegaskan bahwa pembaruan itu diperlukan agar Muhammadiyah tetap relevan, adaptif, dan mampu menghadirkan solusi nyata bagi kehidupan bangsa.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *