islami.co.id, Magelang – Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Dodok Sartono, menegaskan pentingnya transformasi menyeluruh di tubuh Hizbul Wathan (HW). Ia menyampaikan hal itu dalam kegiatan Ideopolitor dan Koordinasi Kwarwil HW Jawa Tengah, Sabtu (28/2).
Di hadapan ratusan peserta, Dodok menyatakan bahwa perubahan yang dibutuhkan bukan sekadar pembaruan program. Menurutnya, HW harus melakukan transformasi secara sistemik, mencakup kultur organisasi, tata kelola, hingga positioning gerakan di tengah masyarakat.
“Transformasi HW tidak cukup hanya program. Kita perlu perubahan kultur, tata kelola, dan cara memosisikan gerakan ini,” ujarnya.
Dodok menilai HW selama ini menjadi instrumen kaderisasi strategis bagi Muhammadiyah. Organisasi kepanduan ini memiliki potensi besar dalam membentuk karakter, kepemimpinan, serta militansi generasi muda. Ia menyebut peran HW sangat penting dalam menyiapkan kader persyarikatan sejak usia dini.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan zaman terus berubah. Era digital menghadirkan dinamika baru. Organisasi kepemudaan juga semakin kompetitif. Di sisi lain, ia melihat tata kelola HW di sejumlah daerah masih lemah dan belum tertata optimal.
Menurut Dodok, kondisi tersebut menuntut langkah pembaruan yang lebih serius dan terstruktur. Ia memaparkan sejumlah persoalan yang perlu segera dicari solusinya. Aktivitas HW, kata dia, belum merata di seluruh sekolah Muhammadiyah. Standarisasi sumber daya manusia pelatih juga belum terbentuk secara menyeluruh.
Baca juga, Ratusan Kader Hizbul Wathan Jateng Berkumpul di UNIMMA, Ideopolitor Jadi Penguat Arah Gerakan
Selain itu, HW belum memiliki sistem database anggota yang terintegrasi. Kegiatan yang berjalan pun masih cenderung seremonial dan belum sistemik. Ia juga menyoroti minimnya sinergi antara HW dengan organisasi otonom maupun amal usaha Muhammadiyah.
Ia menyampaikan bahwa jika kondisi tersebut dibiarkan, HW berisiko kehilangan relevansi di mata generasi muda. “Kalau tidak ditransformasikan, HW bisa kehilangan daya tarik dan relevansi,” tegasnya.
Karena itu, Dodok mendorong langkah transformasi konkret. Ia mengusulkan agar HW menegaskan diri sebagai gerakan kepanduan Islam modern yang berbasis nilai berkemajuan. Menurutnya, identitas itu harus tercermin dalam pola pembinaan, sistem kaderisasi, serta manajemen organisasi.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguatan sistem kaderisasi Muhammadiyah sejak usia dini melalui HW. Proses pembinaan, kata dia, perlu dirancang berjenjang dan terukur. Dengan demikian, kaderisasi tidak berhenti pada aktivitas rutin, tetapi menghasilkan kader yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan.
Dodok juga menyoroti aspek profesionalisme tata kelola. Ia berharap HW mampu membangun sistem manajemen yang lebih tertib, transparan, dan akuntabel. Digitalisasi data anggota menjadi salah satu langkah penting agar organisasi memiliki basis informasi yang kuat.
Di bidang kemandirian, ia mendorong HW mengembangkan model pembiayaan yang lebih mandiri. Menurutnya, penguatan finansial akan membantu organisasi bergerak lebih lincah dan berkelanjutan. Selain itu, branding HW perlu diperkuat agar lebih dikenal dan diminati generasi muda.
Ia menilai transformasi tersebut harus dilakukan secara terencana dan konsisten. Tidak cukup hanya dengan wacana, tetapi perlu komitmen bersama seluruh jajaran pimpinan dan anggota.
Melalui forum Ideopolitor dan Koordinasi Kwarwil HW Jawa Tengah itu, Dodok berharap lahir kesepahaman untuk membangun HW yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Ia menegaskan bahwa HW memiliki modal sejarah dan ideologis yang kuat. Tinggal bagaimana organisasi mampu memperbarui diri secara sistemik.
Dengan langkah transformasi yang terarah, ia optimistis HW dapat kembali menjadi gerakan kepanduan Islam yang relevan, modern, dan berdaya saing di tengah tantangan era digital.










