islami.co.id – Konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah dinilai tidak sekadar perang antara dua pihak. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Lebanon, Hajriyanto Y. Thohari, menyebut konflik tersebut sebagai perang proxy yang melibatkan banyak kekuatan besar dunia.
Menurut Hajriyanto, konflik di kawasan itu tidak berdiri sendiri. Banyak negara besar ikut berperan melalui berbagai kepentingan politik dan militer. Kondisi tersebut membuat Timur Tengah menjadi arena perebutan pengaruh antarnegara kuat di tingkat global maupun regional.
Ia menjelaskan, eskalasi konflik terbaru bermula dari perang Palestina dan Israel yang pecah pada Oktober 2023. Pertempuran itu menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar serta menghancurkan banyak infrastruktur di wilayah terdampak.
“Jadi wilayah Timur Tengah itu bisa juga disebut sebagai wilayah perang proxy, di mana masing-masing kekuatan besar di dunia ini terutama negara-negara Barat, lebih khusus lagi Amerika Serikat, ditambah negara-negara super power adidaya di tingkat regional,” kata Hajriyanto.
Perang proxy merujuk pada konflik yang melibatkan kekuatan besar melalui pihak perantara. Dalam situasi tersebut, negara-negara besar tidak selalu bertempur secara langsung, tetapi mendukung kelompok atau negara tertentu yang menjadi sekutu mereka.
Hajriyanto menjelaskan, dalam konflik Palestina dan Israel terdapat sejumlah kekuatan besar yang terlibat. Amerika Serikat, misalnya, menjadi salah satu negara adidaya global yang memiliki kepentingan kuat di kawasan tersebut.
Sementara itu, di tingkat regional Timur Tengah terdapat beberapa negara yang memiliki pengaruh besar. Hajriyanto menyebut Israel, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sebagai kekuatan utama di kawasan itu.
“Itu masing-masing memiliki proxy-nya sendiri-sendiri di kawasan tersebut, karena itu juga banyak melibatkan diri peran tersebut,” ujarnya.
Ia menilai keterlibatan berbagai kekuatan tersebut membuat konflik semakin kompleks. Setiap negara memiliki kepentingan strategis yang berbeda, baik dalam bidang keamanan, politik, maupun ekonomi.
Baca juga, Doa Quraish Shihab untuk Prabowo di Istana Bikin Haru, Singgung Takdir Kekuasaan dari Tuhan
Akibatnya, konflik tidak hanya berdampak pada negara yang berperang secara langsung. Dampaknya menjalar ke berbagai wilayah dunia, termasuk negara-negara yang berada jauh dari Timur Tengah.
Hajriyanto menegaskan bahwa konflik di kawasan itu memiliki implikasi global. Indonesia, meskipun berada jauh dari lokasi konflik, tetap merasakan dampaknya.
“Meskipun Indonesia jauh dari kawasan tersebut, tetapi karena konflik di Timur Tengah itu memiliki implikasi global, maka juga berpengaruh pada Indonesia. Baik pengaruh secara politik, juga pengaruh secara ekonomi, itu jelas sekali,” ungkapnya.
Dalam sektor ekonomi, salah satu dampak yang terlihat ialah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga sejumlah negara lain yang terkena efek gejolak global.
Hajriyanto mencontohkan situasi ekonomi di beberapa negara Timur Tengah yang terdampak konflik. Lebanon dan Suriah mengalami tekanan ekonomi yang berat akibat instabilitas berkepanjangan.
Ia menggambarkan kondisi ekonomi di kawasan tersebut sangat memprihatinkan. Tingkat kemiskinan meningkat tajam, sementara daya beli masyarakat menurun drastis.
“Implikasi ekonomi itu sangat parah, belum lagi angka kemiskinan yang terus meningkat. Gaji para pegawai negeri, termasuk tentara dan polisi itu hanya cukup untuk makan sepuluh hari setiap bulannya. Apalagi di Gaza sendiri, 78 persen infrastruktur hancur,” tuturnya.
Selain ekonomi, konflik di Timur Tengah juga memicu ketegangan politik di berbagai negara. Instabilitas politik muncul karena meningkatnya perhatian publik terhadap situasi kemanusiaan di Gaza dan wilayah sekitarnya.
Hajriyanto menjelaskan bahwa dalam konflik tersebut tidak semua pihak yang terlibat merupakan negara. Sejumlah aktor non-negara juga berperan aktif dalam pertempuran.
Kelompok seperti Hizbullah, Houthi, dan Hamas terlibat langsung dalam konflik bersenjata melawan Israel. Kehadiran kelompok-kelompok ini menambah kompleksitas situasi politik dan keamanan di kawasan tersebut.
Dampak politik juga terasa di berbagai negara Barat. Di sejumlah kota di Eropa dan Amerika Serikat, gelombang demonstrasi besar muncul sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Aksi protes itu banyak digerakkan oleh aktor non-negara, terutama mahasiswa. Mereka turun ke jalan untuk menyuarakan dukungan dan simpati kepada warga Palestina di Gaza.
Gelombang demonstrasi tersebut menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah tidak lagi menjadi isu regional semata. Peristiwa itu telah berkembang menjadi persoalan global yang memicu reaksi politik di banyak negara.
Hajriyanto menilai situasi tersebut memperlihatkan betapa luasnya dampak konflik di Timur Tengah. Perang yang terjadi di satu kawasan dapat memengaruhi stabilitas politik dan ekonomi dunia, termasuk Indonesia.










