Diklik, Dibagikan, Dipercaya: Siapa Sebenarnya Mengendalikan Narasi Keislaman di Era Algoritma?

woman in brown hijab looking at a tablet

islami.co.id  Perubahan lanskap keagamaan hari ini tidak lagi ditentukan sepenuhnya oleh mimbar masjid, kitab kuning, atau otoritas ulama. Ada aktor baru yang bekerja diam-diam, tetapi sangat menentukan: algoritma. Ia tidak terlihat, tetapi mengatur apa yang kita lihat, dengar, dan pada akhirnya—apa yang kita yakini.

Di ruang digital, agama tidak sekadar diajarkan. Ia dikurasi.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Sejumlah riset menunjukkan bahwa algoritma media sosial bekerja dengan menyaring konten berdasarkan preferensi pengguna, sehingga membentuk eksposur keagamaan secara tidak langsung. Akibatnya, pemahaman Islam yang diterima seseorang sangat bergantung pada apa yang sering ia klik, sukai, dan bagikan.

Di titik ini, pertanyaan mendasar muncul: siapa sebenarnya yang mengendalikan narasi keislaman hari ini—ulama, umat, atau algoritma?

Agama dalam Logika “Engagement”

Algoritma tidak mengenal benar atau salah. Ia hanya mengenal “ramai” atau “tidak ramai”. Konten yang emosional, provokatif, atau kontroversial cenderung lebih sering muncul dibandingkan konten yang mendalam dan moderat.

Dalam studi terbaru, disebutkan bahwa algoritma cenderung memprioritaskan narasi populer dan sensasional dibandingkan analisis keagamaan yang komprehensif.

Akibatnya, dakwah pun ikut bergeser. Bukan lagi soal kedalaman ilmu, tetapi soal daya tarik visual dan kekuatan retorika singkat. Video 30 detik bisa lebih berpengaruh daripada kajian satu jam.

Di sinilah paradoks muncul. Agama yang seharusnya berbasis otoritas keilmuan berubah menjadi konten yang tunduk pada logika pasar digital.

Otoritas Ulama yang Tergeser

Dalam tradisi Islam klasik, otoritas keagamaan dibangun melalui sanad keilmuan. Imam seperti Imam al-Ghazali atau Imam al-Nawawi diakui bukan karena popularitas, tetapi karena kedalaman ilmu dan integritas.

Hari ini, otoritas itu mengalami disrupsi.

Siapa pun bisa berbicara tentang agama di media sosial. Tidak ada verifikasi sanad, tidak ada uji kompetensi. Selama kontennya menarik, ia akan naik ke permukaan.

Penelitian tentang pendidikan agama di era algoritma bahkan menyebut adanya “krisis otoritas keagamaan digital”, di mana popularitas sering kali mengalahkan validitas ilmiah.

Fenomena ini melahirkan “ustaz viral”—figur yang dikenal luas, tetapi belum tentu memiliki kedalaman keilmuan yang memadai.

Echo Chamber: Ketika Kebenaran Menjadi Relatif

Algoritma bekerja dengan memperkuat preferensi. Jika seseorang sering menonton ceramah dengan sudut pandang tertentu, maka platform akan terus menyajikan konten serupa.

Akibatnya, terbentuklah “echo chamber”—ruang gema di mana seseorang hanya mendengar pandangan yang ia setujui.

Baca juga, Mengapa NU Melafalkan Niat (Ushalli), Sementara Muhammadiyah Tidak?

Dalam konteks keislaman, ini berbahaya. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi khazanah justru berubah menjadi polarisasi. Kelompok A merasa paling benar karena hanya melihat konten A. Begitu pula kelompok B.

Padahal, Al-Qur’an mengingatkan:

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“Di atas setiap orang berilmu masih ada yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)

Ayat ini menegaskan kerendahan hati epistemik—sesuatu yang justru terkikis dalam ekosistem algoritmik yang serba menguatkan diri sendiri.

Dakwah: Antara Peluang dan Ancaman

Meski demikian, tidak adil jika algoritma hanya dilihat sebagai ancaman. Ia juga membuka peluang besar bagi dakwah.

Media sosial memungkinkan pesan Islam menjangkau audiens lintas negara, lintas budaya, bahkan lintas generasi. Dakwah tidak lagi terbatas ruang dan waktu.

Namun, peluang ini datang dengan syarat: literasi digital.

Tanpa kemampuan memilah informasi, umat justru menjadi konsumen pasif dari narasi yang dibentuk oleh sistem. Sebaliknya, dengan literasi yang baik, umat bisa menjadi produsen narasi yang sehat.

Penelitian menegaskan pentingnya kesiapan dai dalam menguasai teknologi dan menyusun pesan yang bijak agar tetap relevan di era digital.

Siapa yang Mengendalikan?

Jawaban jujurnya: tidak tunggal.

Algoritma memang menentukan distribusi. Platform menentukan aturan main. Kreator menentukan gaya penyampaian. Tetapi pada akhirnya, pengguna juga memegang kendali melalui pilihan kliknya.

Dengan kata lain, narasi keislaman hari ini adalah hasil interaksi kompleks antara teknologi, manusia, dan kepentingan.

Dalam tradisi Islam, kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas atau popularitas. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas…” (HR. Bukhari-Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa standar kebenaran tetap bersumber pada wahyu dan otoritas ilmiah, bukan pada algoritma.

Menata Ulang Arah

Era algoritma tidak bisa dihindari. Yang bisa dilakukan adalah menegosiasikan ulang posisi agama di dalamnya.

Ulama perlu hadir di ruang digital tanpa kehilangan otoritasnya. Media harus menjaga integritas di tengah tekanan klik. Dan umat perlu lebih kritis dalam mengonsumsi konten keagamaan.

Jika tidak, agama berisiko direduksi menjadi sekadar tren—bukan lagi tuntunan.

Pada akhirnya, algoritma memang kuat. Tetapi ia tetap alat. Yang menentukan arah tetap manusia.

Pertanyaannya tinggal satu: kita mau menyerahkan narasi keislaman pada mesin, atau tetap menjaganya sebagai amanah keilmuan?

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *