Survei PBNU 2026 Mengejutkan! Nama Ini Salip Petahana, 80 Persen Warga NU Mengaku Tak Puas

PBNU

islami.co.id  Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) merilis hasil survei nasional terkait bursa Calon Ketua Umum PBNU periode 2026–2031. Survei daring itu berlangsung pada 20 Februari hingga 15 Maret 2026. Riset ini memotret preferensi pengurus dan warga Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35 yang dijadwalkan pada Juli atau Agustus 2026.

Dalam rilisnya, Insantara menjelaskan komposisi responden. Sebanyak 70 persen mewakili warga NU, sementara 30 persen berasal dari pengurus di tingkat PWNU dan PCNU di seluruh Indonesia. “Populasi survei ini adalah 70% mewakili warga NU dan 30% mewakili Pengurus NU di tingkatan PWNU dan PCNU se-Indonesia,” tulis Insantara, dikutip Kamis (19/3/2026).

Survei ini menyusun simulasi semi terbuka dengan 14 nama kandidat potensial Ketua Umum PBNU. Responden mendapat pertanyaan langsung: jika Muktamar NU digelar saat ini, siapa yang akan dipilih sebagai ketua umum dari daftar tersebut.

Hasilnya menunjukkan persaingan ketat di papan atas. Nama Imam Jazuli menempati posisi pertama dengan perolehan 26,1 persen. Marzuqi Mustamar menyusul di posisi kedua dengan 22,6 persen. Yusuf Chudlori berada di peringkat ketiga dengan 17 persen.

Di bawah tiga besar, Yahya Cholil Staquf memperoleh 9,8 persen. Zulfa Mustofa mencatat 4,6 persen, sedangkan Abdussalam Shohib meraih 4,2 persen. Selanjutnya, Nasaruddin Umar mengumpulkan 4,0 persen dan Syaifullah Yusuf 3,6 persen. Nusron Wahid berada di angka 2,1 persen, diikuti Nuh DEA dengan 1,9 persen.

Baca juga, Esai dan Opini Tugas Kuliah Bisa Tembus Media Nasional, Begini Caranya!

Nama lain yang masuk daftar yakni Abd Ghaffar Rozin, Juhadi Muhammad, dan Abd Hakim Mahfudz. Ketiganya masing-masing memperoleh 1,3 persen suara dalam simulasi tersebut.

Insantara menilai tingginya elektabilitas Imam Jazuli tidak muncul tanpa sebab. Lembaga ini mencatat adanya ketidakpuasan yang cukup besar terhadap kepemimpinan PBNU saat ini. Sekitar 80 persen responden mengaku tidak puas dan bahkan menilai kepemimpinan periode berjalan belum berhasil.

Dalam penjelasannya, Insantara menyebut faktor kritik dan gagasan menjadi pendorong utama. Imam Jazuli dinilai aktif menyuarakan kritik atas dinamika internal PBNU. Ia juga menawarkan sejumlah ide untuk peta jalan NU di abad kedua. Penilaian itu, menurut Insantara, ikut mengangkat elektabilitasnya di mata responden.

“Kiai Imam Jazuli dianggap tokoh muda NU dan pesantren yang paling potensial untuk menggantikan Gus Yahya dalam suksesi PBNU di Muktamar ke-35 NU mendatang,” demikian keterangan tertulis Insantara.

Temuan ini sekaligus memperlihatkan dinamika baru menjelang forum tertinggi NU tersebut. Preferensi warga dan pengurus mulai mengerucut, meski kontestasi masih terbuka. Sejumlah nama yang selama ini dikenal luas tetap bertahan di papan tengah, namun belum mampu menembus dominasi tiga besar.

Survei ini menggunakan metode multistage random sampling. Total responden mencapai 5.900 orang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Insantara menyebut margin of error sekitar 3 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Dengan waktu muktamar yang semakin dekat, hasil survei ini diperkirakan akan menjadi rujukan penting. Peta dukungan bisa berubah seiring dinamika internal dan komunikasi politik di tubuh NU. Namun, untuk saat ini, hasil survei tersebut memberi gambaran awal arah preferensi warga dan pengurus terhadap calon pemimpin PBNU periode mendatang.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *