islami.co.id, Bandung – Dalam suasana hangat Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Bandung, Selasa (18/11), Wakil Presiden RI ke-10 dan 12, Jusuf Kalla, menyampaikan sebuah testimoni yang memantik perhatian banyak pihak. Di hadapan ratusan tamu undangan, JK menekankan bahwa kesejahteraan bangsa tidak mungkin terwujud tanpa hadirnya tiga pilar utama yang harus dijaga secara berkelanjutan. Tiga hal yang ia sebut sebagai “pokok peradaban” itu mencakup pendidikan, kewirausahaan, dan peran pemerintah.
Suasana ruang resepsi seketika hening ketika JK memulai pandangannya mengenai pentingnya pendidikan. Menurutnya, pendidikan merupakan fondasi utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tanpa pendidikan yang baik, masyarakat hanya akan berjalan di tempat dan sulit menandingi dinamika kemajuan global. Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah telah mengambil peran besar dalam proses pencerdasan bangsa.
Melalui ribuan sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi, Muhammadiyah menjadi salah satu pilar pendidikan nasional yang konsisten melahirkan kader-kader unggul.
Dalam testimoninya, JK menyebut bahwa kehadiran lembaga pendidikan Muhammadiyah bukan hanya menambah akses belajar, tetapi juga membentuk karakter generasi yang religius, disiplin, dan berwawasan luas. “Pendidikan adalah jalan paling cepat untuk memperbaiki nasib bangsa,” demikian ia menuturkan dalam kesempatan tersebut. Pandangan itu sejalan dengan fokus utama persyarikatan yang sejak kelahirannya memang menempatkan pendidikan sebagai instrumen transformasi sosial.
Baca juga, Rektor UNIMUS Masrukhi: Kampus Muhammadiyah Memiliki Potensi Besar Melahirkan Generasi Unggul
Setelah menyinggung aspek pendidikan, JK mengarahkan fokus pada poin kedua, yaitu enterpreneurship. Dalam pandangannya, semangat kemandirian ekonomi harus tumbuh dalam diri para kader Muhammadiyah. Ia mencontohkan Rasulullah sebagai figur teladan yang berhasil mengembangkan usaha dan menjadikannya modal strategis dalam memperluas dakwah Islam. Melalui teladan tersebut, JK berharap kader Muhammadiyah tidak hanya menjadi pemikir dan penggerak sosial, tetapi juga pelopor dalam dunia usaha.
Menurut JK, kewirausahaan bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan cara membangun kemandirian dan memperkuat peradaban. Semakin banyak kader yang terjun di bidang usaha, semakin besar pula kemampuan umat untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekonomi keluarga, dan pada akhirnya menopang kesejahteraan nasional. Dalam konteks ini, Muhammadiyah dinilai memiliki basis moral dan intelektual yang dapat menjadi modal kuat dalam melahirkan generasi pengusaha yang beretika dan berkemajuan.
Pada bagian akhir testimoninya, JK menegaskan poin ketiga yang tidak kalah penting, yakni peran pemerintah. Menurutnya, pemerintah harus hadir melalui layanan publik yang berkualitas. Ia menilai bahwa tanpa dukungan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat, upaya perbaikan pendidikan maupun penguatan kewirausahaan akan berjalan kurang optimal. Pemerintah harus memastikan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi dapat diakses dengan mudah oleh seluruh masyarakat. Di sinilah peran negara diuji sebagai pelayan rakyat.










