islami.co.id – Menjelang masa kemerdekaan, ketika geliat pergerakan dan pendidikan di Hindia Belanda semakin menguat, Muhammadiyah menunjukkan visi jauh ke depan melalui pembentukan lembaga pendidikan kader yang dirancang secara serius dan sistematis. Salah satu bukti nyata dari visi tersebut adalah pendirian Madrasah Zu’ama untuk laki-laki dan Madrasah Za’imaat untuk perempuan. Keduanya bukan sekadar sekolah, melainkan institusi khusus yang mempersiapkan kader pemimpin umat dan organisasi.
Dalam majalah resmi Madrasah Moehammadijah tahun 1939 halaman 8, dijelaskan bahwa Zu’ama dan Za’imaat dibentuk sebagai pusat penggemblengan kader dengan tujuan tegas: melahirkan pemimpin masa depan yang kuat secara keilmuan, matang secara spiritual, dan siap memikul amanah besar. Nama Zu’ama (jamak dari Za’im, pemimpin laki-laki) dan Za’imaat (jamak dari Za’imah, pemimpin perempuan) mencerminkan orientasi institusi ini: mencetak pemimpin Muslim berkarakter kuat dan berintegritas.
Lembaga kader ini dirancang untuk mendidik calon pemimpin yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kecakapan hidup sesuai tuntunan Islam. Dalam konteks gerakan modernis Islam yang digulirkan Muhammadiyah, madrasah ini berperan sebagai kawah candradimuka yang melatih kader agar mampu memimpin umat dan menggerakkan organisasi berdasarkan ilmu, akhlak, dan wawasan sosial keagamaan yang luas.
Keistimewaan utama Madrasah Zu’ama dan Za’imaat terletak pada landasan pendidikannya yang sangat fundamental. Berdasarkan dokumen internal Muhammadiyah yang dikutip majalah tersebut, ada tiga dasar utama pengajaran: pertama, Kitabullah (Al-Qur’an); kedua, Sunnah dan Hadis Nabi; dan ketiga, Ijtihad. Penekanan ini menunjukkan bahwa para lulusan diharapkan mampu berpegang teguh pada sumber ajaran Islam yang murni sekaligus memiliki kapasitas intelektual untuk berijtihad dalam menghadapi persoalan baru di tengah masyarakat. Dengan demikian, mereka dipersiapkan bukan hanya sebagai penceramah, tetapi juga sebagai pemikir, penggerak, dan pengambil keputusan yang visioner.
Baca juga, KH Mas Mansur dan Gamelan: Sikap Berani yang Mengubah Cara Pandang Umat
Posisi Madrasah Zu’ama dan Za’imaat sangat sentral dalam jaringan pendidikan Muhammadiyah di Yogyakarta, yang saat itu menjadi Daerah Ibu-Tempat (Pusat) Persyarikatan. Selain dua madrasah tersebut, Muhammadiyah Yogyakarta juga mengelola Madrasah Mu’allimien dan Mu’allimaat untuk calon guru, serta Madrasah Muballighin atau Tablighschool. Kehadiran Zu’ama dan Za’imaat memperlihatkan kesadaran Muhammadiyah bahwa membangun masa depan umat tidak cukup hanya melalui Volksschool atau sekolah guru, tetapi memerlukan lembaga khusus untuk mencetak ulama-pemimpin yang siap berkarya di berbagai bidang kehidupan.
Gagasan pendirian madrasah kader ini menunjukkan keseriusan Muhammadiyah dalam merencanakan masa depan melalui jalur pendidikan. Walaupun nama lembaga ini mengalami penyesuaian seiring perkembangan zaman, semangatnya tetap hidup dalam sistem kaderisasi modern Muhammadiyah, seperti Pendidikan Kader Ulama (PKU) dan lembaga kader lainnya. Zu’ama dan Za’imaat menjadi pionir yang memastikan keberlanjutan estafet kepemimpinan Islam di Indonesia.
Lebih progresif lagi, KH. Asnawi dalam konteks pendirian Akademi Tabligh Muhammadiyah—cikal bakal perguruan tinggi Muhammadiyah—menyampaikan gagasan visioner tentang perlunya muballigh dan muballighat memiliki pengetahuan luas serta kemampuan berbahasa internasional. Beliau menegaskan bahwa medan dakwah Muhammadiyah tidak terbatas pada Jawa atau Indonesia, tetapi mencakup dunia internasional. Karena itu, Majelis Tabligh memandang penting membangun perguruan bernilai akademis, yaitu Akademi Tabligh, untuk meningkatkan kualitas kader dakwah.
Sebagaimana dikutip dalam Majalah Hikmah No. 3, XI tahun 1958, KH. Asnawi menekankan bahwa para muballigh harus siap menjadi penghubung Muhammadiyah dengan masyarakat dunia melalui bahasa dan pengetahuan. Pemikiran visioner tersebut memperkuat pijakan kaderisasi Muhammadiyah dari masa ke masa.










