islami.co.id – Kisah tentang Buya A.R. Sutan Mansur selalu memunculkan kekaguman, terutama ketika dikaitkan dengan kitab Fathurrahman, sebuah obeng, dan keteguhan tauhidnya. Dahlan As dalam majalah Panjimas No. 472 (XXVII/1985: 56–57) pernah menuturkan cerita yang jarang diketahui banyak orang. Narasi tersebut menggambarkan sosok ulama besar yang bukan hanya alim, tetapi juga unik dalam kesehariannya.
Buya A.R. Sutan Mansur (1895–1985) dikenal luas sebagai ulama yang memiliki pemahaman tauhid sangat mendalam. Dahlan mencatat bahwa keteguhan tauhid Buya membuatnya disegani para ulama sezaman, bahkan oleh gurunya sendiri, Dr. H.A. Karim Amrullah. Ada pula kisah populer bahwa seekor macan pernah gentar terhadapnya. Bukan karena kekuatan supranatural, melainkan karena keyakinan yang kokoh serta ketenangan batinnya.
Sebagai ulama, ia menguasai berbagai disiplin ilmu, termasuk tafsir. Kemampuannya sedemikian dalam hingga ia kerap menafsirkan Al-Qur’an hanya dengan ayat lain dan hadis, serta sangat jarang mengutip pendapat ulama lain. Kemandirian berpikirnya menunjukkan kualitas keilmuannya yang diakui banyak pihak.
Dalam kehidupan sehari-hari, Buya memiliki kebiasaan yang tak lazim bagi kebanyakan ulama pada masanya. Ia selalu membawa kitab Fathurrahman dan sebuah obeng ke mana pun pergi. Ia tertarik pada dunia teknik dan gemar memperbaiki peralatan rumah tangga sendiri, mulai dari kelistrikan hingga kunci pintu. Dahlan bahkan menegaskan, “Dua benda yang selalu dekat dengan beliau ialah kitab Fathur Rahman dan obeng. Pada usia 90 tahun sebenarnya ada satu lagi benda yang pantas ada di dekatnya, yaitu kacamata, tetapi beliau ternyata tidak memerlukannya.”
Baca juga, 113 Tahun Muhammadiyah: 15 Pemimpin, Satu Cahaya Perubahan yang Abadi
Buya juga pernah membelah sebuah gembok dengan gergaji besi demi memahami mekanisme kerjanya. Rumahnya terkenal hampir tak pernah memanggil tukang karena ia lebih senang memperbaiki segala sesuatu dengan tangannya sendiri.
Perannya dalam dakwah pun luar biasa. Ia sering menerima konsultasi dari berbagai kalangan, baik mengenai masalah keagamaan, rumah tangga, hingga persoalan politik. Dedikasinya begitu besar hingga ia pernah membatalkan rencana perjalanan hanya karena ada tamu datang tanpa pemberitahuan. Prinsipnya sederhana tetapi tegas: seorang pemimpin Islam harus menguasai agama secara maksimal serta memahami bahasa Arab, bahasa Inggris, dan ilmu teknik. Kepada Dahlan, ia berpesan, “Kalau ingin tampil sebagai pemimpin Islam yang utuh, kuasailah agama yang maksimal, kemudian bahasa Arab dan Inggris, kemudian ilmu teknik!”
Cita-citanya untuk belajar ke Mesir, Inggris, dan Jerman terhenti ketika gurunya, Dr. Karim Amrullah, menikahkannya dengan putrinya, Fatimah. Meski rencana hidupnya berubah, ia tetap menjalani kehidupan dakwah dan keilmuan dengan penuh integritas. Pada usia senja, ia masih aktif membaca, berdiskusi, dan mengikuti perkembangan dunia, termasuk isu Lebanon dan pergerakan Muslim Afghanistan.
Menjelang akhir hayat, semangatnya tetap membara. Saat dirawat, ia selalu berusaha duduk ketika mengetahui ada tamu datang. Ketika wafat, ia meninggalkan rumah tua, kitab-kitab, dan seperangkat alat teknik—simbol kecintaannya pada ilmu dan kemandirian.
Kepergian Buya A.R. Sutan Mansur menjadi kehilangan besar bagi dunia dakwah. Dalam upacara pemakaman, Menteri Agama Munawir Sjadzali menyebut, “Kini ulama mukhlishin semakin langka.” Ungkapan itu terasa sangat tepat: Buya adalah sosok ulama alim, bertauhid dalam, berdakwah tanpa lelah, sekaligus mandiri dan terampil—sosok yang sulit dicari tandingannya.
Rahimahullah rahmatan wâsi‘ah.










