islami.co.id, Magelang – Memasuki abad kedua, Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Penegasan itu disampaikan Ketua MPKSDI PWM Jawa Tengah, Hammam Sanadi, dalam kegiatan Ideopolitor dan Koordinasi Kwarwil HW Jawa Tengah di Universitas Muhammadiyah Magelang.
Hammam menilai, tantangan yang dihadapi Muhammadiyah saat ini semakin kompleks. Ia menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya insani agar mampu merespons perkembangan zaman.
“Memasuki abad kedua ini, Muhammadiyah hadir dengan komitmen menebarkan rahmah bagi seluruh alam,” ujar Hammam di hadapan peserta kegiatan.
Menurut dia, inovasi dari negara-negara maju berkembang sangat cepat. Kondisi itu menuntut Muhammadiyah untuk sigap beradaptasi. Organisasi ini, kata dia, harus menyiapkan kader, simpatisan, dan seluruh warga negara Indonesia agar menjadi pribadi unggul serta memiliki daya saing global.
Ia menjelaskan bahwa tuntutan zaman tidak bisa dihindari. Muhammadiyah perlu membekali generasi muda dengan kapasitas intelektual, spiritual, dan sosial yang mumpuni. Dengan begitu, kader Muhammadiyah tidak hanya kuat secara ideologis, tetapi juga kompeten di ranah profesional.
Dalam kesempatan tersebut, Hammam juga mengingatkan sejumlah inspirasi dari Ahmad Dahlan. Ia menuturkan, pendiri Muhammadiyah itu selalu melakukan refleksi setiap kali selesai membaca Al-Qur’an.
Setiap usai membaca ayat, Ahmad Dahlan bertanya kepada dirinya sendiri, apakah perintah dalam ayat tersebut sudah ia laksanakan atau belum. Jika ayat itu berisi larangan, ia mempertanyakan apakah dirinya sudah benar-benar meninggalkannya.
Baca juga, Dodok Sartono Bongkar Masalah Internal Hizbul Wathan, Serukan Transformasi Total agar Tak Kehilangan Generasi Muda
Sikap reflektif tersebut, menurut Hammam, menjadi kunci gerakan Muhammadiyah sejak awal berdiri. Ahmad Dahlan tidak berhenti pada tataran bacaan dan hafalan. Ia membawa ajaran Al-Qur’an ke dalam praksis sosial yang nyata.
Salah satu contoh konkret ialah pemahaman terhadap Surah Al-Ma’un. Ahmad Dahlan memaknai surah itu sebagai perintah langsung untuk peduli kepada fakir miskin dan anak yatim. Tafsir tersebut tidak berhenti sebagai wacana keagamaan.
“Beliau tidak hanya membaca Al-Ma’un berulang-ulang, tetapi mengamalkannya dengan mendirikan amal usaha untuk membantu yang lemah,” jelas Husnaini.
Dari pemahaman itu lahir apa yang disebut sebagai tafsir transformatif. Tafsir ini mendorong gerakan sosial yang sistematis dan terorganisasi. Semangat itulah yang kemudian menginspirasi pendirian Muhammadiyah.
Hammam menegaskan, spirit Al-Ma’un harus terus hidup di tengah tantangan global saat ini. Ia menyampaikan bahwa Muhammadiyah tidak boleh terjebak pada rutinitas organisasi semata. Gerakan harus tetap berorientasi pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Kini, Muhammadiyah telah berkembang luas. Organisasi ini tidak hanya berkiprah di Indonesia, tetapi juga menjangkau 27 negara. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa gagasan yang berangkat dari tafsir Al-Ma’un memiliki daya jangkau global.
Melalui forum Ideopolitor dan Koordinasi Kwarwil HW Jawa Tengah itu, Hammam mengajak seluruh kader untuk memperkuat ideologi sekaligus meningkatkan kompetensi diri. Ia berharap kader Hizbul Wathan dan seluruh elemen persyarikatan mampu menjawab tantangan zaman dengan karya nyata.
Menurutnya, memasuki abad kedua bukan sekadar momentum seremonial. Fase ini menjadi titik konsolidasi untuk memperkuat kualitas sumber daya insani. Dengan fondasi nilai yang kokoh dan kemampuan adaptasi yang baik, Muhammadiyah diyakini mampu terus memberi kontribusi bagi Indonesia dan dunia.
Pesan reflektif Ahmad Dahlan, tegas Hammam, harus menjadi cermin setiap kader. Membaca ayat tidak cukup tanpa pengamalan. Spirit inilah yang menjaga Muhammadiyah tetap relevan dari masa ke masa.










