islami.co.id, Magelang – Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM Jawa Tengah Sugiyono menegaskan pentingnya penguatan karakter generasi muda di tengah arus globalisasi dan digitalisasi. Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam kegiatan Ideopolitor dan Koordinasi Kwarwil HW Jawa Tengah di Universitas Muhammadiyah Magelang.
Dalam paparannya, Sugiyono menyebut era global dan digital membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga tantangan serius.
“Era globalisasi dan digitalisasi membawa perubahan besar,” ujarnya di hadapan peserta. Ia menambahkan, perubahan tersebut memicu krisis moral dan degradasi karakter pada generasi muda.
Menurut Sugiyono, tantangan ideologi dan budaya global semakin nyata. Generasi muda menghadapi arus informasi tanpa batas yang kerap tidak sejalan dengan nilai agama dan kebangsaan. Karena itu, ia menilai pendidikan karakter berbasis agama dan nasionalisme menjadi kebutuhan mendesak.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada aspek akademik. Sekolah dan organisasi kepanduan harus membangun fondasi ideologi yang kuat. Dengan begitu, generasi muda mampu menghadapi dinamika global tanpa kehilangan jati diri.
Dalam forum tersebut, Sugiyono juga memaparkan potensi besar yang dimiliki Hizbul Wathan. Ia menyebut organisasi kepanduan Muhammadiyah itu mempunyai ideologi Islam yang kuat sebagai dasar gerakan.
Selain itu, Hizbul Wathan memiliki jaringan nasional dan internasional yang luas. Jaringan tersebut membuka ruang kolaborasi dan penguatan kapasitas kader di berbagai level.
Sugiyono menilai sistem kaderisasi berjenjang yang diterapkan Hizbul Wathan menjadi kekuatan tersendiri. Pola pembinaan itu memungkinkan kader tumbuh secara sistematis dan terarah.
Baca juga, Ratusan Kader Hizbul Wathan Jateng Berkumpul di UNIMMA, Ideopolitor Jadi Penguat Arah Gerakan
Ia juga menyoroti integrasi Hizbul Wathan dengan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Sinergi ini, kata dia, memperkuat pembinaan karakter karena pendidikan formal dan nonformal berjalan selaras.
“Tradisi kepemimpinan dan kedisiplinan menjadi ciri khas yang terus dijaga,” ungkapnya. Menurutnya, nilai tersebut relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Tidak hanya berperan di tingkat nasional, Sugiyono menegaskan bahwa Hizbul Wathan memiliki posisi strategis di dunia global. Ia menyebut organisasi ini dapat menjadi representasi Islam moderat di kancah internasional.
Ia menjelaskan, peran tersebut tampak dalam diplomasi kepanduan dunia. Melalui jejaring global, Hizbul Wathan dapat memperkenalkan wajah Islam yang damai dan berkemajuan.
Selain itu, Sugiyono menyatakan bahwa Hizbul Wathan berpotensi menjadi kontributor dalam isu lingkungan dan kemanusiaan. Menurutnya, isu tersebut menjadi perhatian masyarakat global saat ini.
Ia menambahkan, kontribusi aktif dalam bidang tersebut akan memperkuat branding Islam berkemajuan. Branding itu penting untuk menegaskan identitas gerakan di tengah kompetisi ideologi dunia.
Sugiyono berharap kader Hizbul Wathan mampu membaca perubahan zaman dengan cermat. Ia menilai organisasi ini harus terus berinovasi tanpa meninggalkan nilai dasar yang telah menjadi fondasi perjuangan.
Melalui kegiatan Ideopolitor dan Koordinasi Kwarwil HW Jawa Tengah di Universitas Muhammadiyah Magelang, ia mendorong konsolidasi ideologi dan penguatan strategi gerakan. Menurutnya, langkah itu menjadi kunci agar Hizbul Wathan tetap relevan di era global.
Ia menegaskan bahwa tantangan globalisasi tidak boleh dihadapi dengan sikap pasif. Generasi muda harus memiliki karakter kuat, wawasan luas, serta komitmen pada nilai agama dan nasionalisme.
“Pendidikan karakter berbasis agama dan nasionalisme menjadi sangat penting,” tegasnya.
Dengan potensi ideologi, jaringan, sistem kaderisasi, serta tradisi kepemimpinan yang kuat, Sugiyono optimistis Hizbul Wathan mampu menjawab tantangan global. Ia meyakini organisasi tersebut dapat menjadi benteng moral sekaligus duta Islam berkemajuan di tingkat dunia.










