Penulis: Rahma Nur Aulia (Mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qurβan dan Tafsir di Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Darul Qurβan)
islami.co.idΒ βΒ Dalam mempelajari suatu disiplin ilmu, seseorang sering kali lebih berfokus pada hasil atau capaian yang diperoleh daripada manfaat serta nilai yang terkandung di dalamnya. Padahal, ilmu tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada bagaimana pengetahuan tersebut memberikan kontribusi dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia.
Dalam kajian filsafat ilmu, terdapat perdebatan mengenai konsep ilmu bebas nilai (value free) dan ilmu yang terikat nilai (value bound). Ilmu bebas nilai berpandangan bahwa ilmu pengetahuan harus bersifat netral, objektif, serta berorientasi pada pencarian kebenaran berdasarkan fakta empiris. Sebaliknya, konsep ilmu yang terikat nilai memandang bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah sepenuhnya netral karena proses penemuan hingga penerapannya selalu melibatkan manusia beserta lingkungan sosialnya. Oleh sebab itu, ilmu harus berjalan selaras dengan norma, moral, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan agar tidak menimbulkan kerusakan.
Salah satu karya monumental dalam khazanah tafsir adalah Ta’wilat Ahl al-Sunnah karya Imam Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi al-Samarqandi (w. 333 H/944 M). Kitab ini menjadi salah satu rujukan penting dalam tradisi akidah Ahlusunnah wal Jamaah karena berhasil mengintegrasikan dalil naqli (teks) dengan argumentasi rasional (aqli) (Rofiq, n.d.).
Bertolak dari latar belakang tersebut, tulisan ini bertujuan mengkaji nilai aksiologis ilmu yang terkandung dalam muqaddimah Ta’wilat Ahl al-Sunnah, khususnya melalui ungkapan bihi tata’allaqu mashalih al-‘ibad fi ma’asyihim wa ma’adihim. Ungkapan tersebut dianalisis untuk melihat bagaimana Imam Al-Maturidi memandang fungsi praktis ilmu tafsir dalam membimbing kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
Apa Itu Aksiologi dan Mengapa Penting?
Aksiologi merupakan cabang ketiga dalam filsafat ilmu setelah ontologi dan epistemologi. Cabang ini membahas nilai, tujuan, manfaat, serta kegunaan ilmu pengetahuan. Pertanyaan mendasar yang diajukan aksiologi ialah, “Apa manfaat ilmu bagi kehidupan manusia?”
Secara umum, ilmu memang diharapkan mampu menghadirkan kesejahteraan dan kemaslahatan. Karena itu, aksiologi berperan penting dalam memastikan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak justru merugikan manusia ataupun merusak lingkungan (Abadi, 2016).
Keberadaan ilmu pengetahuan pada hakikatnya bertujuan menghadirkan kemudahan dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Tanpa landasan aksiologis, perkembangan ilmu justru berpotensi melahirkan berbagai kemudaratan, bahkan mengancam kehidupan sosial maupun keseimbangan alam (Rokhmah, 2021).
Aksiologi dalam Muqaddimah Ta’wilat Ahl al-Sunnah
Dalam buku Filsafat Ilmu, M. Fiqih Cholidi menegaskan bahwa ilmu tidak sekadar menjadi alat pemuas rasa ingin tahu intelektual, melainkan juga merupakan amanah profetik untuk mewujudkan kemaslahatan universal (rahmatan lil ‘alamin) (Cholidi, n.d.). Pandangan tersebut selaras dengan muqaddimah Ta’wilat Ahl al-Sunnah karya Imam Al-Maturidi.
Pada bagian pengantar kitab tersebut ditegaskan urgensi ilmu tafsir melalui ungkapan:
“…Ψ¨Ω ΨͺΨͺΨΉΩΩ Ω Ψ΅Ψ§ΩΨ Ψ§ΩΨΉΨ¨Ψ§Ψ― ΩΩ Ω ΨΉΨ§Ψ΄ΩΩ ΩΩ ΨΉΨ§Ψ―ΩΩ …”
“bihi tata’allaqu mashalih al-‘ibad fi ma’asyihim wa ma’adihim”,
yang berarti, “Pada ilmu tafsir inilah bergantung seluruh kemaslahatan para hamba dalam kehidupan dunia dan tempat kembali mereka di akhirat.”
Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa ilmu tafsir memiliki kedudukan yang sangat strategis karena berkaitan langsung dengan kemaslahatan manusia. Melalui ilmu tafsir, seseorang dapat memahami petunjuk Al-Qur’an sebagai pedoman menjalani kehidupan dunia sekaligus bekal menuju kehidupan akhirat.
Baca juga, Deepfake dalam Perspektif Fikih: Dosa Digital di Balik Teknologi Manipulasi Wajah dan Suara
Dengan demikian, fungsi ilmu tafsir tidak berhenti pada penjelasan makna ayat-ayat Al-Qur’an. Lebih dari itu, ilmu tafsir menjadi dasar dalam mengambil keputusan, menentukan sikap, dan membangun kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Karena itulah, keberadaan ilmu tafsir dipandang memiliki nilai praktis yang sangat besar bagi kehidupan manusia, baik dalam dimensi duniawi maupun ukhrawi.
Dualitas Aksiologi dalam Ta’wilat Ahl al-Sunnah
Muqaddimah Ta’wilat Ahl al-Sunnah secara eksplisit menghadirkan dua dimensi aksiologis, yakni ma’asy (kehidupan dunia) dan ma’ad (kehidupan akhirat). Kedua dimensi tersebut bukan menunjukkan adanya pemisahan antara urusan dunia dan akhirat, melainkan menggambarkan keluasan manfaat ilmu tafsir yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
Melalui ilmu tafsir, manusia memperoleh petunjuk untuk mengelola kehidupan dunia secara benar sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.
Dimensi pertama adalah ma’asy. Dalam bahasa Arab, istilah ini merujuk pada kehidupan dunia, mata pencaharian, penghidupan, atau berbagai urusan yang berkaitan dengan aktivitas manusia. Dalam perspektif aksiologi, dimensi ma’asy menempatkan ilmu tafsir sebagai solusi atas berbagai persoalan konkret yang dihadapi manusia.
Al-Qur’an memang merupakan petunjuk hidup. Namun, tanpa penafsiran yang dilakukan para ulama melalui metodologi yang tepat, pesan-pesan Al-Qur’an akan sulit diaplikasikan dalam realitas sosial yang terus berkembang. Oleh sebab itu, ilmu tafsir berfungsi menjaga agar kehidupan bermasyarakat tetap berjalan sesuai nilai-nilai Islam.
Penerapan tersebut dapat ditemukan dalam berbagai bidang, seperti etika politik yang menjunjung kejujuran dan keadilan, tata kelola bisnis yang bebas dari praktik kecurangan, hingga hubungan sosial yang berlandaskan prinsip keadilan dan kemaslahatan.
Dimensi kedua adalah ma’ad, yaitu kehidupan akhirat sebagai tempat kembali manusia setelah kematian. Dalam konteks ini, ilmu tafsir berfungsi membimbing manusia menuju keselamatan akhirat. Melalui ilmu tafsir, umat Islam dapat memahami fondasi akidah yang benar sehingga terhindar dari penyimpangan pemikiran, sekaligus mengetahui tata cara beribadah yang sesuai dengan tuntunan syariat.
Pemahaman yang benar terhadap wahyu inilah yang menjadi bekal utama bagi manusia dalam meraih keselamatan di akhirat.
Kesimpulan
Pembahasan di atas menunjukkan bahwa ilmu tafsir merupakan ilmu yang tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai moral, etika, dan kemanusiaan. Hal tersebut tercermin dalam muqaddimah Ta’wilat Ahl al-Sunnah karya Imam Abu Mansur Al-Maturidi melalui ungkapan bihi tata’allaqu mashalih al-‘ibad fi ma’asyihim wa ma’adihim, yang menegaskan bahwa seluruh kemaslahatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat, bergantung pada pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an.
Pandangan Al-Maturidi memperlihatkan bahwa ilmu tafsir tidak dikembangkan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan intelektual, tetapi juga mengemban tanggung jawab etis dalam membimbing manusia menjalani kehidupan sesuai nilai-nilai Al-Qur’an.
Dimensi aksiologis tersebut mencakup dua ranah yang saling melengkapi, yakni ma’asy dan ma’ad. Dalam kehidupan dunia, ilmu tafsir menjadi pedoman dalam menyelesaikan berbagai persoalan sesuai dengan syariat Islam. Adapun dalam kehidupan akhirat, ilmu tafsir menjadi penuntun menuju akidah yang lurus dan ibadah yang benar. Dengan demikian, tujuan ilmu tidak berhenti pada penghasilan pengetahuan semata, tetapi juga menghadirkan kemaslahatan serta perbaikan kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.










