islami.co.id – Ramadhan merupakan bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Kedatangannya selalu dinanti oleh kaum Muslim karena di dalamnya terdapat limpahan rahmat, ampunan, dan peluang besar untuk meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan. Dalam khazanah keilmuan Islam, terdapat konsep al-qaul ‘inda dukhûl Ramadhân, yakni tuntunan ucapan dan sikap seorang Muslim ketika memasuki bulan Ramadhan. Konsep ini tidak hanya berkaitan dengan lafaz doa, tetapi juga mencerminkan kesiapan spiritual dan kesadaran moral seorang hamba dalam menyambut bulan suci.
Secara terminologis, al-qaul berarti ucapan, sedangkan dukhûl Ramadhân bermakna masuknya bulan Ramadhan. Dengan demikian, al-qaul ‘inda dukhûl Ramadhân dapat dipahami sebagai ungkapan doa, niat, dan sikap batin yang dianjurkan ketika Ramadhan tiba. Dalam tradisi Islam, ucapan yang baik diyakini sebagai cerminan hati yang bersih dan niat yang lurus. Oleh karena itu, menyambut Ramadhan dengan ucapan doa dan syukur menjadi bagian penting dari adab keislaman.
Salah satu doa yang sering dikaitkan dengan datangnya bulan Ramadhan adalah doa melihat hilal yang diriwayatkan dalam hadis Nabi Muhammad saw.:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالإِسْلَامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
Artinya: “Ya Allah, tampakkanlah bulan ini kepada kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu (wahai bulan) adalah Allah.” (HR. at-Tirmidzi)
Doa ini menunjukkan bahwa masuknya Ramadhan seharusnya disambut dengan harapan akan bertambahnya iman dan keselamatan, bukan sekadar kegembiraan ritual. Ucapan tersebut menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum pembaruan hubungan manusia dengan Allah dan sesama.
Baca juga, Satu Abad NU: Merawat Indonesia Merdeka, Menjemput Peradaban Mulia
Selain doa, al-Qur’an juga menegaskan keagungan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya wahyu. Allah Swt. berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. al-Baqarah [2]: 185)
Ayat ini menjadi dasar teologis mengapa Ramadhan harus disambut dengan kesiapan lahir dan batin. Ucapan yang baik, seperti saling mendoakan dan mengingatkan dalam kebaikan, merupakan refleksi dari kesadaran bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan spiritual.
Dalam perspektif para ulama, menyambut Ramadhan tidak cukup dengan tradisi seremonial. Imam Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa salafusshalih berdoa selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, lalu enam bulan berikutnya memohon agar amal mereka diterima. Pandangan ini menunjukkan bahwa al-qaul yang diucapkan ketika Ramadhan datang harus diiringi dengan kesungguhan amal.
Lebih lanjut, Rasulullah saw. mengingatkan tentang keutamaan Ramadhan melalui sabdanya:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya: “Apabila Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa ucapan dan sikap positif saat Ramadhan masuk harus menjadi awal perubahan perilaku. Ramadhan bukan sekadar waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum menata lisan, pikiran, dan perbuatan.
Dengan demikian, al-qaul ‘inda dukhûl Ramadhân mengajarkan umat Islam untuk menyambut bulan suci dengan doa, syukur, dan komitmen moral. Ucapan yang baik menjadi pintu masuk bagi amal yang berkualitas. Ketika Ramadhan disambut dengan kesadaran iman, diharapkan ia benar-benar menjadi sarana transformasi spiritual yang berkelanjutan, bukan hanya ritual tahunan yang berlalu tanpa makna.
Referensi
- Al-Qur’an al-Karim.
- Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari.
- Muslim, Shahih Muslim.
- At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi.
- Ibn Rajab al-Hanbali, Lathâ’if al-Ma‘ârif fî Mâ li Mawâsim al-‘Âm min al-Wazhâ’if.










