Home / Aktualita / Muhammadiyah Siap Wujudkan Indonesia ‘Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur’

Muhammadiyah Siap Wujudkan Indonesia ‘Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur’

Milad Muhammadiyah

islami.co.id, Bandung  Dalam suasana hangat peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Bandung, Selasa (18/11), Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan pidato yang bukan hanya reflektif, tetapi juga penuh visi kebangsaan. Ia menegaskan bahwa Islam, sebagaimana diyakini Muhammadiyah sejak awal berdiri, tidak hanya mengajarkan ibadah spiritual, tetapi juga menuntun umat menuju kesejahteraan lahir dan batin.

Haedar merujuk pada berbagai kisah para nabi dalam Al-Qur’an yang menggambarkan bagaimana ajaran Islam mendorong terbentuknya masyarakat yang aman, makmur, dan bermartabat. Doa Nabi Ibrahim, misalnya, menjadi bukti bahwa keamanan dan rezeki merupakan bagian dari visi kehidupan Islami (QS Al-Baqarah: 126). Kisah Nabi Yusuf yang mengantarkan Mesir keluar dari krisis panjang menunjukkan pentingnya kepemimpinan visioner yang melahirkan kesejahteraan kolektif. Begitu pula Nabi Muhammad SAW yang membimbing bangsa Arab keluar dari kegelapan Jahiliyah menuju predikat khaira ummah (QS Ali Imran: 110).

Haedar juga menekankan bahwa umat Islam tidak boleh mewariskan generasi yang lemah, sebagaimana diperingatkan dalam QS An-Nisa: 9. Sebaliknya, umat diperintahkan untuk melahirkan generasi qurrata a’yun, yakni keturunan yang membahagiakan dan membawa kebaikan (QS Al-Furqan: 74). Semua ini menunjukkan bahwa ajaran Islam mendorong umat untuk membangun peradaban yang unggul, kuat, dan berkeadaban.

Sejak berdiri pada 1912, Muhammadiyah, ujar Haedar, telah mempraktikkan nilai-nilai tersebut melalui kerja-kerja nyata. Dalam Muqaddimah Anggaran Dasar-nya tercantum gagasan bahwa masyarakat sejahtera hanya dapat diwujudkan melalui keadilan, kejujuran, persaudaraan, gotong royong, serta berpijak pada hukum Allah. Misi ini kemudian dijabarkan lebih luas dalam tujuan nasional Indonesia yang sejalan dengan cita-cita “Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur,” yaitu negara yang indah, bersih, makmur, dan berada dalam naungan ampunan Tuhan.

Baca juga, Soeharto: Kader Muhammadiyah atau NU?

Muhammadiyah juga memiliki dasar filosofis yang kuat melalui Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH). Di dalamnya ditegaskan bahwa Islam adalah agama yang menjamin kesejahteraan material maupun spiritual, duniawi dan ukhrawi. Enam belas usaha Muhammadiyah pun menegaskan peran strategis organisasi ini dalam pemberdayaan masyarakat, mulai dari bidang ekonomi, kewirausahaan, kesehatan, kesejahteraan sosial, hingga pengelolaan lingkungan hidup.

Haedar mengingatkan bahwa tantangan bangsa saat ini semakin kompleks—mulai dari isu keagamaan, politik, ekonomi, hingga sosial budaya. Dalam dinamika semacam ini, Muhammadiyah diharapkan hadir sebagai kekuatan penyejuk dan pemberi solusi. Ia mendorong agar seluruh elemen bangsa memperluas kerja sama, meningkatkan partisipasi, serta bersama-sama mendorong lahirnya kebijakan negara yang pro-kesejahteraan dan berkeadilan sosial.

Kerja-kerja pencerahan Muhammadiyah, menurut Haedar, harus dilaksanakan dengan semangat dakwah dan tajdid yang berdampak nyata. Dari memberdayakan perempuan, meningkatkan kualitas kesehatan, memperkuat ekonomi umat, hingga menjaga lingkungan—semua adalah bagian dari kontribusi Muhammadiyah dalam membangun peradaban bangsa.

Milad ke-113 ini, ujar Haedar, bukan hanya momentum refleksi, tetapi juga panggilan untuk bergerak lebih progresif. Muhammadiyah bersama seluruh kekuatan bangsa harus terus memperkokoh persatuan, menumbuhkan kegembiraan kolektif, serta memperluas gerak perubahan demi Indonesia yang lebih adil, makmur, dan unggul.

Bagi Haedar dan Muhammadiyah, cita-cita besar itu bukan sekadar idealisme. Ia adalah amanat sejarah sekaligus tanggung jawab moral. Karena itu, ia menyerukan agar seluruh warga Persyarikatan menjaga tradisi kemajuan, memelihara integritas, dan terus menebar manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. Dengan kerja bersama, Indonesia yang “Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur” bukan sekadar mimpi, tetapi tujuan yang bisa diwujudkan secara nyata.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *