H.B. Jassin: Sastrawan, Kritikus, dan Kontroversi Terjemah Al-Quran

HB Jassin

Oleh : Moh Wafiqun Najmus Staqib (Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir Universitas Islam Cordoba Banyuwangi)

islami.co.id β€“ Dalam sejarah sastra Indonesia, nama Hans Bague Jassin atau lebih dikenal sebagai H.B. Jassin berdiri sebagai tiang penyangga yang tidak tergoyahkan. Ia bukan sekadar “Paus Sastra Indonesia”, sebuah julukan yang disematkan kepadanya atas otoritas intelektualnya yang tak tertandingi. Lebih dari itu, Jassin adalah sosok yang berani melampaui batas konvensi termasuk ketika ia menyentuh wilayah paling sakral dalam kehidupan beragama umat Islam: Al-Qur’an Al-Karim. Langkah itu memicu perdebatan besar antara kebebasan sastra dan otoritas keagamaan, dan menjadikannya figur yang tidak bisa dipahami hanya dari satu sisi.

Sosok H.B. Jassin: Dari Gorontalo ke Pusat Sastra Nasional

Hans Bague Jassin lahir di Gorontalo, Sulawesi Utara, pada 31 Juli 1917. Ia tumbuh dalam keluarga yang memberikan ruang baginya untuk mencintai bahasa dan tulisan sejak dini. Pendidikannya membawanya dari Gorontalo ke Batavia kini Jakarta di mana ia mulai menapaki dunia sastra dan jurnalisme dengan penuh kesungguhan (Eneste, 1986).

Karier Jassin sebagai editor, kritikus, dan pengarsip sastra dimulai sejak ia bergabung dengan majalah Poedjangga Baroe pada dekade 1930-an, sebelum kemudian menjadi tokoh sentral di majalah Kisah. Melalui kedua wadah inilah ia membangun reputasinya sebagai pembaca yang teliti dan jujur, tidak segan memuji maupun mengkritik karya-karya yang masuk ke tangannya (Teeuw, 1967).

Julukan “Paus Sastra Indonesia” tidaklah berlebihan. Jassin berperan besar dalam menilai dan membentuk kanon sastra nasional siapa yang dianggap sastrawan, karya mana yang layak diakui, dan gaya penulisan seperti apa yang mencerminkan identitas sastra Indonesia. Puncak dari dedikasi hidupnya adalah pendirian Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di Taman Ismail Marzuki, Jakarta sebuah lembaga yang menyimpan puluhan ribu koleksi naskah, majalah, dan korespondensi sastra Indonesia yang tak ternilai harganya (Faruk, 2001).

Kontribusi Intelektual: Membangun Kritik Sastra Indonesia

Sebelum Jassin, kritik sastra Indonesia nyaris tidak memiliki fondasi yang sistematis. Jassin-lah yang pertama kali memperkenalkan pendekatan kritik sastra yang metodis membaca teks secara mendalam, menempatkannya dalam konteks sosial-budaya, dan menilainya dengan standar estetika yang dapat dipertanggungjawabkan (Pradopo, 1995).

Jassin pula yang pertama kali merekognisi dan memperkenalkan Chairil Anwar kepada khalayak luas. Ia menyebut Chairil sebagai “si binatang jalang” yang membawa pembaruan dalam puisi Indonesia sebuah framing yang kemudian melekat dalam sejarah sastra nasional. Begitu pula dengan Pramoedya Ananta Toer; Jassin mendukung karyanya bahkan di tengah tekanan politik (Teeuw, 1967).

Tak hanya itu, Jassin juga berfungsi sebagai jembatan antara sastra Indonesia dan dunia internasional. Ia aktif menerjemahkan karya-karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris dan mendorong pengenalan sastra nusantara di forum-forum internasional, menjadikan sastra Indonesia tidak lagi sekadar wacana lokal (Eneste, 1986).

Proyek Al-Qur’an Berwajah Puisi: Niat, Proses, dan Terbit

Di balik sosok kritikus yang keras kepala, Jassin menyimpan keimanan yang dalam. Kecintaannya pada bahasa dan keyakinan pribadinya pada keindahan Al-Qur’an mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya di Indonesia: menerjemahkan Al-Qur’an dalam bentuk puisi berirama.

Bagi Jassin, Al-Qur’an pada dasarnya adalah teks sastra tinggi. Dalam bahasa Arab, Al-Qur’an memiliki rima, irama, dan keindahan bunyi yang luar biasa kualitas yang menurutnya sering hilang dalam terjemahan prosa biasa. Ia ingin mendekatkan umat pada keindahan bahasa Al-Qur’an tanpa mengubah substansi maknanya (Jassin, 1991).

Baca juga, Jejak Digital Tak Selamanya Boleh Diungkit, Aib Orang yang Bertobat Wajib Dihapus

Proses penerjemahan itu memakan waktu bertahun-tahun dan dilakukan dengan sangat hati-hati. Jassin tidak sekadar memindahkan kata ke kata; ia berupaya mereproduksi musikalitas bahasa Arab dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan diksi puitis dan ritme yang teratur. Hasil kerja keras itu akhirnya diterbitkan pada 1991 dengan judul Al-Qur’an Al-Karim Berwajah Puisi sebuah karya monumental yang sekaligus menjadi titik awal badai kontroversi (Jassin, 1991).

Kontroversi: Ketika Sastra Bertabrakan dengan Agama

Reaksi publik tidak menunggu lama. Sejumlah ulama dan organisasi Islam termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) segera menyuarakan keberatan. Pertanyaan mendasar yang mereka ajukan adalah: apakah seorang sastrawan, yang bukan ahli agama dan bukan ahli bahasa Arab klasik, memiliki otoritas untuk menerjemahkan kitab suci? (Mujiburrahman, 2006).

Lebih dari sekadar soal kompetensi, perdebatan ini menyentuh persoalan teologis yang lebih dalam: apakah Al-Qur’an boleh diterjemahkan dalam bentuk puisi? Sebagian ulama berpendapat bahwa terjemahan puitis dengan segala penyesuaian diksi dan irama yang diperlukan berpotensi menggeser makna ayat dari maksud aslinya, dan ini bisa menyesatkan pemahaman umat (Federspiel, 1994).

Jassin dipanggil untuk memberikan klarifikasi. Ia tidak mundur. Dengan tenang, ia menjelaskan bahwa karyanya bukan pengganti terjemahan resmi Al-Qur’an, melainkan sebuah pendekatan alternatif yang bertujuan memperkenalkan keindahan sastrawi Al-Qur’an kepada masyarakat umum terutama mereka yang tidak terbiasa dengan gaya bahasa terjemahan konvensional (Jassin, 1991).

Di sisi lain, Jassin mendapat dukungan dari kalangan sastrawan dan intelektual. Mereka berpendapat bahwa karya Jassin adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada Al-Qur’an  sebuah upaya untuk merayakan keindahannya, bukan memanipulasinya. Kontroversi ini akhirnya mencerminkan ketegangan yang lebih besar: di mana batas antara tafsir budaya dan otoritas keagamaan? (Mahayana, 2007).

Warisan dan Refleksi: Jassin dalam Sejarah Intelektual Indonesia

H.B. Jassin wafat pada 11 Maret 2000. Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang terasa hingga kini. Namun warisannya hidup tidak hanya melalui tulisan-tulisannya, tetapi juga melalui Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin yang masih berdiri di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sebagai rujukan penting bagi siapa pun yang ingin meneliti sejarah sastra Indonesia (Faruk, 2001).

Kontroversi terjemahan Al-Qur’an-nya mencerminkan ketegangan yang tidak pernah benar-benar selesai di Indonesia: ketegangan antara ekspresi seni dan sensitivitas keagamaan, antara kebebasan intelektual dan batas-batas yang ditetapkan otoritas. Jassin tidak pernah bermaksud mengganggu keyakinan siapapun; ia hanya mencintai bahasa terlalu dalam untuk membiarkan keindahan Al-Qur’an hanya tersimpan dalam satu versi (Mujiburrahman, 2006).

Pertanyaan tentang apakah Jassin adalah seorang visioner atau seseorang yang melampaui batas mungkin tidak memiliki jawaban tunggal. Yang pasti, ia memaksa bangsanya untuk berpikir lebih keras tentang hubungan antara seni, budaya, dan agama sebuah dialog yang jauh lebih produktif daripada diam.

Penutup

H.B. Jassin adalah figur kompleks yang tidak bisa direduksi hanya sebagai kritikus sastra yang dingin, atau sekadar sosok kontroversial yang pernah menerjemahkan Al-Qur’an dalam bentuk puisi. Ia adalah cermin dari kegelisahan intelektual Indonesia sebuah bangsa yang terus bergulat dengan pertanyaan tentang identitas, agama, dan budaya.

Keberaniannya baik dalam membangun kritik sastra yang sistematis maupun dalam proyek Al-Qur’an Berwajah Puisi bukan lahir dari arogansi, melainkan dari kecintaan yang tulus pada bahasa dan keindahan. Dan mungkin itulah pelajaran terpenting yang ia wariskan: bahwa kecintaan pada keindahan, bila dilandasi kejujuran, tidak perlu takut pada kontroversi.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *