islami.co.id, Jakarta – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah kembali menegaskan satu nilai penting yang sudah diwariskan sejak zaman Kiai Ahmad Dahlan: jangan hidup kayak sultan. Meski aset organisasi ini sudah mencapai Rp454,24 triliun, nominal yang kalau ditumpuk mungkin bisa menghalangi sinyal Wi-Fi sekampung, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, tetap wanti-wanti supaya para pengurus nggak keblinger.
Imbauan ini disampaikan Haedar saat Leadership Training bagi para pimpinan PTMA angkatan kesebelas di UMY, Rabu malam (19/11/2025). Momen malam hari, serius, tapi tetap adem.
Kesederhanaan: Jangan Sampai Jabatan Bikin Amnesia
Haedar mengingatkan bahwa seluruh aktivitas persyarikatan harus terukur, efisien, dan jelas dampaknya. Bukan cuma sebatas rapat-rapat panjang yang menghasilkan notulen sepanjang skripsi tapi tidak ada tindak lanjut.
Ia menekankan, jabatan itu jangan sampai bikin seseorang naik kasta sosial sampai merasa perlu beli mobil tiga biji untuk “menunjang kinerja”. Tapi juga jangan sampai minder dan merasa diri kecil. Kata kuncinya: tawassuth yang berarti seimbang. Tidak mewah, tidak nggondog, tapi juga tidak terlalu merendah sampai orang bingung kapan sebenarnya kita mau memimpin.
Baca juga, Gubernur Jabar Kagum: Muhammadiyah Jadi Teladan Politik dan Tata Kelola Organisasi
Dalam urusan kepemimpinan, Haedar mengingatkan empat nilai profetik yang kalau diterapkan bisa bikin organisasi jalan mulus tanpa drama ala telenovela:
- Sidiq (jujur)
Fondasi utama. Kalau sudah tidak jujur, ya wassalam. Jangankan organisasi, hubungan PDKT saja bisa bubar. - Amanah (dapat dipercaya)
Muhammadiyah sejak dulu dikenal sebagai lembaga yang kredibel. Jangan sampai reputasi ini dirusak gara-gara oknum yang hobi mark up atau suka “jalan-jalan studi banding” sampai lima benua. - Fathanah (cerdas dan bijaksana)
Bukan sekadar pintar teori, tapi bisa mengambil keputusan tepat tanpa perlu drama. Tidak semua masalah harus dibawa ke grup WhatsApp panjang yang isinya saling mengirim stiker. - Tabligh (mampu menyampaikan pesan)
Pemimpin harus bisa menjelaskan visi dan misi tanpa membuat audiens ingin tidur siang. Intinya, jangan bikin rapat terasa seperti kuliah jam 7 pagi.
Organisasi Triliunan, Tapi Tetap Wajib Rendah Hati
Data per Maret 2025 menunjukkan kekayaan Muhammadiyah mencapai Rp454,24 triliun, menjadikannya organisasi Islam terkaya keempat di dunia. Sumbernya? Ribuan amal usaha: sekolah, kampus, rumah sakit, panti asuhan, layanan sosial, hingga lembaga keuangan.
Tapi Haedar menegaskan, kekayaan triliunan ini bukan alasan untuk hidup glamor. Ini amanah besar untuk melayani masyarakat dengan etika, integritas, dan hati yang nggak gampang silau.
Singkatnya, Muhammadiyah boleh kaya, tapi warganya tetap harus down to earth. Tidak perlu flexing mobil listrik baru, cukup flexing layanan pendidikan dan kesehatan yang terjangkau.
Haedar seolah mengingatkan bahwa jadi pemimpin Muhammadiyah itu bukan ajang mengumpulkan privilege, melainkan cara menjalankan “fungsi kerisalahan” yang dalam bahasa anak sekarang berarti jadi manusia berguna buat umat, bukan jadi beban organisasi.










