islami.co.id – Fenomena bullying atau perundungan kini menjadi persoalan serius di lingkungan pendidikan dan sosial. Tidak hanya terjadi di sekolah, tindakan ini juga merambah ke dunia maya. Anak-anak menjadi korban, pelaku, bahkan penonton dalam lingkaran kekerasan sosial yang seolah tanpa ujung. Dalam konteks ini, tanggung jawab orang tua menjadi sangat penting dalam membentuk karakter anak agar mampu menghadapi, menolak, dan tidak terlibat dalam perilaku bullying.
Dalam Islam, anak adalah amanah yang harus dijaga dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk mendidik anak dengan akhlak yang baik. Dalam konteks maraknya bullying, pendidikan karakter menjadi benteng utama. Anak perlu dibimbing agar memiliki empati, menghormati perbedaan, dan memahami nilai keadilan serta kasih sayang.
Bullying sering berakar pada kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan lemahnya kontrol diri. Di sinilah pentingnya pengasuhan islami yang menekankan pada ta’dib (pendidikan adab) sebelum ta’līm (pengajaran ilmu). Imam al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūmiddīn menjelaskan bahwa pendidikan adab harus dimulai sejak dini, karena hati anak masih bersih dan mudah dibentuk. Jika orang tua menanamkan nilai kebaikan sejak kecil, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan berempati pada sesama.
Selain itu, orang tua harus menjadi teladan. Perilaku kasar di rumah, seperti bentakan atau kekerasan verbal, dapat memicu anak meniru hal yang sama di luar rumah. Sebaliknya, jika anak melihat kasih sayang, keadilan, dan komunikasi yang baik antara orang tua, mereka akan mencontohnya. Rasulullah ﷺ sendiri dikenal sebagai pribadi yang lembut dan penuh kasih terhadap anak-anak. Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi disebutkan:
مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ
“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan bahwa kasih sayang adalah kunci dalam pendidikan. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan penuh cinta akan memiliki kepribadian yang hangat dan tidak mudah melakukan kekerasan terhadap orang lain.
Di era digital, bullying juga banyak terjadi melalui media sosial. Maka, peran orang tua tidak berhenti pada pengawasan fisik, tetapi juga pada literasi digital. Anak harus diajarkan etika bermedia sosial, seperti tidak menyebarkan kebencian, tidak mempermalukan orang lain, dan menjaga lisan digitalnya sebagaimana menjaga lisan di dunia nyata. Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf [50]: 18)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap perkataan, baik secara langsung maupun di dunia maya, akan dipertanggungjawabkan. Anak perlu diajarkan untuk berpikir sebelum berbicara atau menulis, serta memahami bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang bisa menyakiti atau menyembuhkan.
Mengasuh anak di tengah maraknya bullying berarti mengajarkan cinta dan empati, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui teladan dan pembiasaan. Orang tua perlu menciptakan ruang dialog yang aman agar anak berani bercerita ketika menghadapi masalah. Dalam suasana seperti itu, anak akan merasa dihargai dan terlindungi.
Dengan pendekatan islami yang penuh kasih sayang, pendidikan adab yang konsisten, dan pengawasan digital yang bijak, orang tua dapat menumbuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral. Karena sejatinya, mencegah bullying bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga bagian dari jihad keluarga dalam membangun masyarakat berakhlak mulia.







