islami.co.id – Ada saat-saat ketika sejarah berjalan perlahan, nyaris sunyi. Ada pula masa ketika sejarah berlari kencang, seolah dikejar badai. Dalam usia 113 tahun Muhammadiyah, kedua suasana itu pernah dilalui. Setiap kali zaman berubah arah, selalu ada sosok berdiri di depan, memegang amanah sebagai Ketua Umum.
Ini adalah perjalanan panjang Muhammadiyah, seperti sebuah keluarga besar yang terus tumbuh, menyesuaikan diri dengan zaman, dan berupaya tetap bermanfaat bagi umat.
Fase 1: Zaman Perintis (1912–1930-an)
Segalanya dimulai dari kegelisahan seorang guru kampung. KH. Ahmad Dahlan merasakan kegelisahan melihat umat Islam jauh dari inti ajaran Islam, kemiskinan melanda, dan martabat manusia sering terabaikan. Dari mushola kecil, papan tulis, dan bangku kayu, Dahlan menebarkan ilmu melalui tadarus panjang ayat Al-Ma’un yang bukan hanya dibaca, tapi dijalankan.
Dahlan bukan sekadar pendiri, ia pemantik keberanian untuk berpikir maju. Setelah wafatnya, tongkat estafet berpindah ke KH. Ibrahim, sosok tenang yang menata organisasi agar memiliki struktur kokoh. Jika Dahlan adalah api, Ibrahim adalah tangan yang membentuk bara menjadi cahaya yang terarah.
Selanjutnya, KH. Hisyam memimpin singkat, namun penting. Ia mempersatukan Muhammadiyah saat organisasi mulai diuji oleh perbedaan pandangan, memastikan fondasi organisasi kuat menghadapi badai zaman.
Fase 2: Zaman Gelombang Besar: Pendudukan & Kemerdekaan (1930–1950-an)
Sejarah berubah drastis ketika perang dunia, pendudukan Jepang, dan proklamasi kemerdekaan terjadi. KH. Mas Mansur tampil sebagai pemimpin visioner, berani, dan tajam. Ia menjadi bagian dari “Empat Serangkai” tokoh nasional, menjadikan Muhammadiyah lebih progresif dan berani bersuara di ranah politik.
Baca juga, Cerdas tapi Perlu Batas: Memilah Fungsi AI dalam Pencarian Referensi Agama
Ki Bagus Hadikusumo kemudian memimpin saat Indonesia menentukan dasar negara. Ketegasannya tentang Islam dan moral menjadi penopang Muhammadiyah di tengah ketidakpastian, memastikan organisasi tetap teguh dan relevan.
Fase 3: Zaman Penataan Negara (1950–1970)
Tahun 1950-an adalah masa Indonesia muda mencari bentuk negara demokrasi baru. A.R. Sutan Mansur membumikan dakwah melalui pendekatan akar rumput. KH. M. Yunus Anis menata pendidikan dan pemikiran organisasi secara akademis. KH. Ahmad Badawi menjaga Muhammadiyah tetap selamat di tengah pusaran politik transisi Soekarno-Orde Baru. KH. Faqih Usman meneguhkan prinsip keislaman dengan tegas, meski masa jabatannya singkat.
Fase 4: Zaman Pertumbuhan Besar (1970–1998)
Era Orde Baru membawa stabilitas politik dan pembangunan nasional. KH. AR Fachruddin memimpin 23 tahun, memunculkan ekspansi rumah sakit, sekolah, dan kampus Muhammadiyah. Ahmad Azhar Basyir membawa perspektif akademis dan sistematis, sementara Amien Rais menghadapi masa krisis menjelang reformasi, menjadi tokoh kunci perubahan nasional.
Fase 5: Zaman Reformasi (1998–2015)
Selepas reformasi, Muhammadiyah dipimpin Syafii Maarif, sosok berani dan moral, dikenal sebagai “Guru Bangsa.” Din Syamsuddin kemudian membawa organisasi ke kancah global, memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat dan intelektual melalui dialog antaragama.
Fase 6: Zaman Kontemporer & Digital (2015–sekarang)
Era digital menghadirkan tantangan baru: polarisasi, hoaks, dan disrupsi. Haedar Nashir memimpin dengan tenang, analitis, dan rapi. Ia memperkuat moderasi, kemandirian ekonomi, serta identitas Muhammadiyah sebagai gerakan keilmuan. Dari papan tulis Kyai Dahlan ke algoritma digital era modern, Muhammadiyah tetap konsisten sebagai cahaya perubahan.
Epilog: 113 Tahun Menjadi Cahaya
Dari mushola kecil Kauman hingga kampus internasional, dari zaman penjajah hingga era digital, Muhammadiyah terus berupaya menjadi rahmat bagi seluruh alam. Setiap fase memiliki pemimpin dengan caranya masing-masing menavigasi zaman, namun semuanya satu tujuan: menjadikan Islam sebagai cahaya bagi kemanusiaan.










