Haedar Nashir Ingatkan Soal Awal Ramadan 1447 H: Jangan Saling Menyalahkan, Fokus Raih Takwa!

Ramadan

islami.co.id  Umat Islam di berbagai belahan dunia segera memasuki puasa Ramadan 1447 H. Di Indonesia maupun di negara lain, awal Ramadan berpotensi berbeda. Perbedaan itu kerap terjadi dan sudah menjadi dinamika yang biasa dalam kehidupan umat Islam.

Selama umat Islam belum memiliki satu kalender hijriah global, perbedaan penetapan hari besar Islam masih mungkin berulang. Situasi ini, menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, harus disikapi dengan bijak dan penuh kelapangan hati.

“Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” ujar Haedar pada Selasa (17/2).

Ia menegaskan, perbedaan awal Ramadan tidak boleh memecah belah umat. Umat Islam perlu mengedepankan sikap arif dan tasamuh. Ramadan, katanya, memiliki tujuan utama untuk meningkatkan takwa, baik secara pribadi maupun kolektif.

Haedar menjelaskan, esensi puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa menjadi sarana pembinaan diri agar setiap muslim mampu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dari sana, lahir kebaikan hidup yang lebih utama.

Melalui peningkatan takwa kepada Allah SWT, ia berharap hubungan sosial di tengah masyarakat semakin harmonis. Umat Islam harus mampu menebar kebaikan, tidak hanya kepada sesama, tetapi juga kepada lingkungan secara luas.

Karena itu, berbagai persoalan, termasuk perbedaan awal Ramadan, jangan sampai mengganggu tujuan utama ibadah puasa. Dengan kecerdasan dan keimanan, umat Islam diyakini mampu meraih derajat takwa yang lebih tinggi dan meningkatkan kemuliaan hidupnya.

Haedar juga berpesan agar puasa Ramadan 1447 H dijalankan dengan suasana tenang dan damai. Ia mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam hiruk pikuk perdebatan yang justru mengurangi kekhusyukan ibadah.

“Dalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas,” tuturnya.

Baca juga, Ramadhan 1447 H Tiba, Yahya Cholil Staquf: Jangan Biarkan Perbedaan Awal Puasa Memecah Umat

Menurut Haedar, puasa harus berdampak pada perbaikan akhlak, baik dalam ranah pribadi maupun publik. Ramadan menjadi momentum pembentukan karakter dan peningkatan kualitas diri umat Islam agar layak menyandang predikat umat terbaik.

Ia mengingatkan, jika umat Islam tidak mengalami peningkatan kualitas, kejayaan dan martabat sulit diraih. Perlombaan membangun peradaban maju menuntut kesiapan mental, spiritual, dan intelektual.

Umat Islam, lanjutnya, juga tidak boleh bersikap fatalistis. Sikap pasrah tanpa ikhtiar, terutama dalam bidang ekonomi, justru menghambat kemajuan. Haedar menilai, kualitas hidup umat, khususnya di sektor ekonomi, memerlukan kerja keras dan kesungguhan.

“Meraih kualitas hidup umat Islam terutama di bidang ekonomi sungguh memerlukan kesungguhan. Puasa justru melatih kita untuk hidup efisien, prihatin, hidup untuk bisa hemat, dan lain sebagainya. Dan itu menjadi pangkal kita maju di bidang ekonomi,” katanya.

Dalam konteks sosial, Haedar menekankan peran umat Islam sebagai perekat bangsa. Puasa melatih pengendalian diri, termasuk saat menghadapi ajakan konflik.

“Dalam konteks sosial yang lebih luas, umat Islam harus jadi perekat sosial. Puasa itu melatih kita untuk tahan diri, hatta di saat ada pihak yang mengajak kita berkonflik atau bertengkar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, puasa juga mengajarkan kesabaran dan pengendalian hawa nafsu. Di era media sosial yang kerap memicu kemarahan dan perpecahan, puasa harus menjadi tameng moral.

“Dengan berbagai macam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita,” tegasnya.

Haedar menutup pesannya dengan harapan agar Ramadan menjadi titik tolak kemajuan umat. Takwa, menurut dia, bermuara pada perbaikan martabat hidup secara menyeluruh.

“Takwa itu juga puncaknya adalah perbaikan martabat hidup tertinggi, maka umat Islam harus menjadi umat yang maju dalam berbagai kehidupan, baik spiritual, moral, sosial, ekonomi, politik dan berbagai aspek yang lain menuju peradaban utama,” pungkasnya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *