Berbeda Pandangan, Satu Tujuan: Membaca Perdebatan Tokoh Islam dengan Kacamata Persatuan

perdebatan tokoh islam

Oleh : Muhammad Taufiq Ulinuha (Mahasiswa Pascasarjana UAD, Aktifis JIMM, & KHM)

islami.co.id  Perdebatan di antara tokoh-tokoh Islam bukanlah fenomena baru. Sejak masa klasik hingga era media sosial hari ini, perbedaan pandangan kerap muncul ke ruang publik dan menjadi konsumsi umat. Sayangnya, perdebatan tersebut tidak jarang dibaca secara serampangan, dipertajam oleh emosi, lalu berujung pada polarisasi. Padahal, jika ditelaah dengan jernih, perbedaan pandangan di kalangan tokoh Islam justru menyimpan pelajaran berharga tentang kedewasaan berpikir, keluasan ilmu, dan pentingnya persatuan umat.

Dalam khazanah Islam, ikhtilaf atau perbedaan pendapat merupakan keniscayaan. Perbedaan metode ijtihad, latar belakang keilmuan, serta konteks sosial sering melahirkan pandangan yang tidak selalu sama. Persoalannya bukan terletak pada adanya perbedaan itu sendiri, melainkan pada cara umat menyikapinya. Ketika perbedaan dipahami sebagai ancaman, ia akan memecah. Namun ketika dibaca sebagai kekayaan intelektual, ia justru menguatkan.

Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, sejak awal berdirinya telah meletakkan fondasi penting dalam menyikapi perbedaan. Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dikenal sebagai sosok yang terbuka terhadap dialog dan pembaruan. Ia tidak menjadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk saling menegasikan. Sebaliknya, Kiai Dahlan menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan akal sehat serta kepekaan sosial. Dalam pandangannya, kebenaran tidak cukup dibela dengan suara keras, tetapi harus diwujudkan melalui amal nyata yang membawa kemaslahatan.

Prinsip tersebut kemudian dilembagakan dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Majelis Tarjih dan Tajdid tidak hanya berfungsi sebagai lembaga fatwa, tetapi juga sebagai ruang ijtihad kolektif yang menjunjung tinggi etika perbedaan. Dalam berbagai keputusan tarjih, Muhammadiyah secara terbuka mengakui adanya khilafiyah dan memberikan ruang bagi perbedaan pendapat, selama memiliki dasar yang kuat dan tidak bertentangan dengan prinsip tauhid serta kemaslahatan umum. Sikap ini menunjukkan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan secara emosional, melainkan didialogkan secara ilmiah.

Baca juga, Indonesia Darurat Bencana: Revitalisasi Mitigasi dan Kesiapsiagaan Skala Nasional

Sayangnya, semangat seperti ini sering kali tidak tercermin dalam cara sebagian umat membaca perdebatan antar tokoh Islam di ruang publik. Potongan ceramah, kutipan singkat di media sosial, atau judul provokatif kerap dilepaskan dari konteksnya. Akibatnya, perbedaan pandangan yang sejatinya bersifat metodologis berubah menjadi konflik personal. Tokoh dipuja atau dicaci bukan karena kedalaman argumennya, tetapi karena kesesuaian dengan selera kelompok tertentu.

Dalam situasi seperti ini, pesan KH Ahmad Dahlan terasa relevan. Ia pernah mengingatkan bahwa Islam tidak cukup dipahami secara tekstual, tetapi harus dihayati dengan akal dan nurani. Membaca perdebatan tokoh Islam seharusnya mendorong umat untuk berpikir lebih dewasa, bukan mempersempit cara pandang. Jika para tokohnya saja berbeda dengan tetap saling menghormati, mengapa umat justru saling meniadakan?

Buya Syafii Maarif, salah satu tokoh intelektual Muhammadiyah, juga kerap menekankan pentingnya etika dalam perbedaan. Menurutnya, perbedaan pendapat adalah tanda kehidupan intelektual yang sehat. Yang berbahaya bukanlah perbedaan itu sendiri, melainkan fanatisme sempit yang menutup pintu dialog. Buya Syafii mengingatkan bahwa umat Islam memiliki tantangan besar yang jauh lebih mendesak, seperti keadilan sosial, kemiskinan, dan krisis kemanusiaan. Perdebatan yang tidak produktif justru mengalihkan energi umat dari persoalan-persoalan tersebut.

Dalam konteks keindonesiaan, persatuan umat menjadi kebutuhan mendesak. Masyarakat yang majemuk menuntut sikap keagamaan yang dewasa dan inklusif. Perdebatan antar tokoh Islam semestinya dibaca sebagai dinamika pemikiran, bukan sebagai alasan untuk saling mencurigai. Muhammadiyah melalui gagasan Islam Berkemajuan menegaskan bahwa kemajuan umat hanya dapat dicapai jika perbedaan dikelola dengan bijak dan diarahkan pada kerja-kerja kemanusiaan.

Islam Berkemajuan menempatkan persatuan sebagai tujuan, bukan keseragaman. Perbedaan pandangan tetap ada, tetapi disatukan oleh komitmen terhadap nilai-nilai dasar Islam: tauhid, keadilan, dan kemaslahatan. Dalam kerangka ini, perdebatan bukan ajang saling mengalahkan, melainkan sarana memperkaya perspektif dan mencari solusi terbaik bagi umat.

Membaca perdebatan antar tokoh Islam dengan semangat persatuan berarti menahan diri dari sikap reaktif, memperluas literasi keagamaan, dan mengedepankan adab. Umat diajak untuk tidak mudah terprovokasi, tetapi menelusuri argumen secara utuh. Sikap seperti ini bukan hanya mencerminkan kedewasaan beragama, tetapi juga sejalan dengan tradisi intelektual Islam yang menjunjung tinggi ilmu dan akhlak.

Pada akhirnya, perbedaan pandangan adalah sunnatullah. Ia tidak mungkin dihapus, tetapi dapat dikelola. Muhammadiyah telah memberi teladan bahwa persatuan tidak harus mengorbankan perbedaan. Justru dengan membaca perdebatan secara arif, umat Islam dapat menemukan titik temu untuk melangkah bersama. Di tengah dunia yang kian terpolarisasi, pesan ini menjadi semakin relevan: berbeda pandangan boleh, tetapi tujuan tetap satu, yakni menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *